Teatrikal “wayang ental” pukau penonton “Bali Nawanatya”

Garapan teatrikal dengan menggunakan wayang berbahan “ental” atau daun lontar yang dibawakan Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, memukau penonton ajang “Bali Mandara Nawanatya III” di Taman Budaya Denpasar.

“Komunitas Wayang Ental ini boleh dikatakan terobosan baru,” kata Gusti Made Darma Putra selaku Ketua Komunitas Wayang Ental di sela pagelaran tersebut, di Denpasar, Minggu malam.

Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, menjadi terasa istimewa karena diramaikan oleh pementasan Bali Creative Performance dari kedua sanggar yang unik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kedua Sanggar itu adalah Sanggar Seni Kuta Kumara Agung dan Sanggar Dewari Swari Karangasem. Penampil pertama yakni Sanggar Seni Kuta Kumara Agung membawakan teatrikal wayang ental bertajuk “Mungkah”.

Kata Mungkah yang berarti memulai ini pun mengisahkan seorang tokoh bernama Gusti Pada yang menjadi dalang pertama di Desa Kuta, Kabupaten Badung.

Sudah berdiri 15 tahun, nyatanya Wayang Ental yang berbahan dasar daun ental dan terdiri atas bentuk dua dimensi SBOBET dan tiga dimensi, baru terlahir tahun 2016 dan 2017.

“Idenya dua tahun lalu, tetapi baru bisa rampung untuk yang dua dimensi tahun 2016 dan yang tiga dimensi tahun 2017,” ujar Darma.

Melihat fenomena bahwa dunia pedalangan maupun pewayangan kian tak tertoleh generasi muda, membuat keinginan Darma kian besar untuk meneruskan penciptaan wayang ental meski tak sedikit yang mencibir.

“Nggak sedikit yang bilang kalau wayang ini keluar dari pakem-pakem wayang, tetap sebetulnya tidak,” ucap Darma tegas.

Untuk wayang berbentuk dua dimensi tetap mengambil tokoh-tokoh yang umum berada dalam dunia pewayangan khususnya yang berada dalam cerita Mahabharata, dengan teknik memainkan layaknya wayang pada umumnya.

Sedangkan wayang ental tiga dimensi mengambil tokoh tertentu yang menyesuaikan dengan cerita yang akan diambil (bentuk biografi-red) dengan cara memainkannya yang menggabungkan gaya lokal dengan gaya negeri sakura, Jepang.

“Menggabungkan gaya dari Jepang yakni bundraku satu benda atau wayang yang dimainkan lebih dari satu orang dan digabung gaya tetikesan,” ucap Darma.

Kemunculan wayang ental mengundang decak kagum dari para penonton sebab keunikan wujud dan detail yang dibuat hampir menyerupai manusia.

Selepas dihibur dengan teatrikal wayang ental, kemunculan suling empretan pun menambah rasa penasaran dari penonton. Suling empretan yang merupakan karya dari anak-anak Sanggar Dewari Swari berasal dari eksplorasi yang dilakukan tiga bulan lalu.

Semua bermula dari eksplorasi, garapan hari ini pun kami landasi dengan istilah Manusa yang berarti Manut Krana Sejatining Rasa (Mengikuti Kata Hati-red),” ujar I Komang Kusuma Adi selaku ketua garapan.

Menuruti kata hati menurut Adi adalah bagaimana seseorang bisa mengeksplorasi diri sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang menginspirasi. “Mencoba eksplor kehidupan seseorang secara pribadi khususnya pada kalangan seniman baik gebug ende, pelukis, dan lainnya,” ujar Adi.

Sanggar yang berdomisili di Karangasem ini pun menampilkan empat garapan yang di antaranya bertajuk Nedeh, Pragina Topeng, Citrani, dan Soroh Gebug.

Keunikan terlihat pada gamelan yang memaksimalkan bunyi suling empretan. Nama empretan sendiri diambil dari suara yang dihasilkan suling itu sendiri, yakni “Mprett”.

Bagi Adi, keberadaan Bali Mandara Nawanatya dapat menjadi ruang yang bebas untuk berkreasi lepas sehingga dapat menciptakan kesenian yang tak hanya sekadar memuaskan panca indra, melainkan juga sebagai tuntunan hidup manusia.

Paduan suara UGM juara Festival Folklor Nusantara

Jakarta (ANTARA News) – Perhimpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) mengadakan kompetisi paduan suara tingkat mahasiswa bertajuk Festival Folklor Nusantara 2018.

Kompetisi ini diadakan untuk menyambut perayaan Hari Sumpah Pemuda ke-90. Sebanyak 56 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia mengikuti kompetisi Festival Folklor Nusantara 2018 ini.

Pada babak final dipilih sebanyak 12 finalis yang akhirnya mengerucut menjadi tiga terbaik pilihan dewan juri yang terdiri dari Budi Susanto Yohanes, Aning Katamsi, Jessica Amadea, Roni Sugiarto, dan Abby Galant Thahira.

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil menjadi juara pertama, diikuti oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma di posisi kedua, dan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Negeri Malang di posisi ketiga.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang juga merupakan Koordinator Presidium II HIMPUNI menyambut baik adanya kompetisi Folkror Nusantara 2018 tingkat perguruan tinggi ini.

Menurutnya kompetisi ini menjadi ajang sbobet indonesia bagi generasi muda dalam mengekspresikan cinta tanah air dan memelihara semangat sumpah pemuda.

“Luar biasa adik-adik peserta dari seluruh Indonesia begitu semangat menunjukkan apa yang dicanangkan 90 tahun lalu itu hadir hari ini,” ucap Budi Karya Sumadi dalam sambutannya dalam acara Festival Folkror Nusantara 2018 di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Sabtu.

“Budaya, seni, dan lagu kita pilih sebagai hal universal yang dapat kita jadikan tali pengikat diantara kita bahwa kita Indonesia,” tambahnya.

Ketiga juara tadi mendapatkan penghargaan berupa Piala Presiden dan uang pembinaan dengan total mencapai Rp180 juta. Arief Budhy Hardono selaku Wakil Presidium II HIMPUNI berharap kompetisi Folkror Nusantara ini bisa terus terselenggara dan dari ajang ini bisa melarikan pemimpin bangsa di masa mendatang.

“HIMPUNI berharap dari peserta festival ini bisa menjadi pemimpin bangsa pada usia Indonesia 100 tahun di 2045 mendatang,” pungkas Arief Budhy Hardono.

Buku Puisi Esai Indonesia-Malaysia diluncurkan

Kota Kinabalu,  (ANTARA News) – Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu, Malaysia Krishna Djelani bersama Menteri Pelajaran dan Inovasi Negeri Sabah, Datuk DR Yusof Yacub meresmikan peluncuran Buku Puisi Esai Indonesia-Malaysia dan Sayembara Menulis Puisi Esai ASEAN, di Bandaranjaya, Kota Kinabalu, Rabu.

Peluncuran buku karya kolaboratif penyair dari Indonesia dan Malaysia yang diberi judul “Kemilau Satu Langit” ini diselenggarakan oleh Badan Bahasa dan Sastera Sabah (Bahasa) dan Komunitas Puisi Esai Indonesia.

Acara dihadiri oleh sejumlah penulis dan penyair dari Indonesia dan Malaysia, mahasiswa serta pengamat seni dan budaya.

Dalam sambutannya, Datuk Yusof Yacub menyampaikan apresiasi dan menyambut baik penerbitan buku hasil karya penulis dari dua bangsa serumpun Indonesia dan Malaysia.

Datuk Yusof juga menyampaikan harapan agar para penulis, para penggiat budaya dan sastera nusantara untuk lebih kreatif dan mampu menelurkan lebih banyak karya sejenis di masa yang akan datang.

Sementara Konsul Jenderal RI Kota Kinabalu, Krishna Djelani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran buku hasil karya para penulis Indonesia dan Malaysia ini merupakan upaya yang sangat baik dan penting, sekaligus diharapkan dapat lebih mempererat kerja sama di berbagai bidang di antara kedua bangsa serumpun.

Sebelumnya, Datuk Jasni Matlani, Presiden Badan bahasa dan Satera Sabah dalam sambutan pengantarnya menyatakan bahwa kegiatan peluncuran buku tersebut sejatinya bukan hanya tentang puisi dan buku tetapi juga tentang ukhuwah.

“Budaya dan sastra dapat menjadi alat pemersatu bangsa seperti satu keluarga,” tandas Datuk Jasni.

Senada dengan Datuk Jasni, Pengurus Komunitas Puisi Esai Indonesia, Fatin Hamama R. Syam, penyair jebolan Universitas Al Azhar Kairo Mesir menyatakan bahwa peluncuran buku hasil kerja sama penulis dua bangsa ini diharapkan menjadi “titian muhibah” untuk lebih mendekatkan bangsa Indonesia-Malaysia.

Peluncuran buku dan sayembara menulis puisi esai tingkat ASEAN  ini juga diisi dengan persembahan budaya dan deklamasi pusi oleh para penyair.

Pada kesempatan tersebut, Datuk Arifin Arif, Anggota Dewan Undangan Negeri (ADUN) Daerah Membakut Sabah, berkesempatan membacakan goresan puisinya yang bercerita mengenai kepiluan tragedi bencana gempa dan tsunami Palu.

Baca juga: Puisi esai; tonggak baru sastra Indonesia
 Baca juga: Sastrawan Malaysia sebut puisi esai “sastra diplomasi” diapresiasi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Instrumenta Sandbox

Pameran Instrumenta Sandbox

Pengunjung mengamati salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran seni bertajuk Instrumenta 2018 Sandbox di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (12/11/2018). Pameran Instrumenta 2018 Sandbox menyajikan 30 karya dengan konten beragam mulai dari permainan tradisional hingga multimedia yang diselenggarakan hingga 30 November 2018. ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

Rayakan 50 tahun TIM, Teater Abang None pentaskan “Seper Jakarta”

Jakarta (ANTARA News) – Teater Abang None turut memeriahkan rangkaian perayaan 50 tahun Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) dengan pementasan drama musikal berjudul “Seper Jakarta.”

“Kita membahas tentang Jakarta, tentang pesimisme orang-orang yang ada di Jakarta, kenapa orang-orang banyak masalah,” ujar pimpinan produksi Teater Abang None, Fariz Zaki kepada Antara di PKJ TIM, Jakarta, Jumat malam.

Drama musikal “Seper Jakarta” sudah pernah dipentaskan sebelumnya. Namun, di pementasan kali ini dilakukan penyesuaian, mulai dari durasi, karakter, hingga lagu-lagu yang dinyanyikan.

“Ada beberapa perubahan karena kita mempertimbangkan durasi. Karena 50 menit ada beberapa sketsa kita kurangi, talent yang kita pangkas,” ujar Fariz.

“Seper Jakarta” berkisah tentang mereka yang dihadapkan pada masalah di Jakarta dan berpikir pergi adalah solusi.

Jika sebelumnya menceritakan tiga tokoh utama. “Seper Jakarta” versi mini ini berpusat pada dua tokoh utama, Tagor dengan masalah cinta dan Jamile dengan masalah cita-citanya.

“Mereka beranggapan bahwa ketika mereka berada di Jakarta, mereka enggak akan bisa memecahkan masalah mereka, jadi jalan utamanya adalah mereka harus keluar dari Jakarta,” kata Fariz.

Sampai akhirnya mereka dipertemukan dengan ketegaran yang membuat mereka berpikir ulang, apakah Jakarta memang harus ditinggal pergi atau mereka hanya pesimis pada diri sendiri.

“Di ujung kita disadarkan bahwa setiap individu punya masalah masing-masing, entah di Jakarta atau bukan. Jalan keluarnya bukan lari, tapi berani untuk menghadapi masalah itu,” lanjut Fariz.

“Seper Jakarta” juga menampilkan berbagai karakter — mulai satpam hingga sales — dengan berbagai latar belakang suku budaya yang menunjukkan bahwa Jakarta adalah miniatur Indonesia.

Sementara, untuk urusan pemilihan lagu, drama musikal “Seper Jakarta” juga menyajikan sejumlah lagu karya komponis besar Indonesia Ismail Marzuki yang namanya dijadikan pusat kesenian tersebut.

Lagu-lagu karya Ismail Marzuki yang dimasukkan dalam drama musikal tersebut antara lain “Aryati,” “Juwita Malam,” “Jangan Ditanya Ke Mana Aku Pergi,” dan “Wanita.”

Pemilihan empat lagu tersebut, menurut Fariz, berdasarkan lirik yang dinilai sesuai dengan jalan cerita “Seper Jakarta” agar alur cerita tetap terhubung dari awal hingga akhir.

“Kita menyesuaikan sama story kita supaya enggak jauh-jauh hubungannya dengan Jakarta. Kita kolaborasikan, kita medley, kita kemas sedemikian rupa untuk menjadi satu kesatuan,” kata dia.

Lagu-lagu karya Ismail Marzuki tersebut juga terdengar modern dengan aransemen yang fresh dari sentuhan alat musik saxophone, trompet, drum, bass dan gitar.

Hal demikian yang juga diharapkan Fariz pada 50 tahun PKJ TIM di mana seni dapat melebur dalam membangun ekosistem kesenian dan ekosistem sosial yang lebih luas, sesuai dengan tema “Seni Bersama, Bersama Seni” yang diangkat tahun ini.

“Acara-acara seperti ini yang melibatkan seniman-seniman lokal, kebudayaan-kebudayaan yang diangkat lagi baik secara kontemporer maupun klasik, itu sebenarnya cukup membantu kita-kita bagian dari seniman untuk menunjukkan bahwa sebenarnya karya-karya seni yang berhubungan dengan budaya itu belum mati,” ujar Fariz.

Baca juga: Ulang tahun ke-50, TIM gelar pementasan gratis

Baca juga: Lalu lintas di Jalan Cikini Raya dialihkan selama HUT TIM

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Seni Rupa Perempuan

Pameran Seni Rupa Perempuan

Pengunjung mengamati karya seni rupa yang dipajang saat pameran bertajuk “Vidyadiva Cahaya Perempuan Bali” di Taman Budaya Bali, Minggu (4/11/2018). Pameran tersebut memajang puluhan berbagai karya seni rupa karya sejumlah seniman perempuan Bali. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

“Baku Jaga” iringi penyambutan mahasiswa baru di Changsha

Changsha, China (ANTARA News) – Lagu berjudul “Baku Jaga” yang dinyanyikan seorang pelajar asal Palu, Sulawesi Tengah, turut mengiringi penyambutan mahasiswa baru dari Indonesia yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Kota Changsha, China.

Lagu yang dibawakan dengan apik oleh Aulia Rahmah itu mampu menciptakan suasana mengharukan dalam acara yang dihadiri sedikitnya 80 pelajar asal Indonesia di Ibu Kota Provinsi Hunan tersebut.

“Lagu ini saya persembahkan untuk orang-orang tercinta saya di Palu,” kata mahasiswi kedokteran Changsha Medical University itu, Senin.

Saat gempa bumi yang diikuti tsunami di Palu bulan lalu, dia sempat panik karena kedua orang tuanya tidak dapat dihubungi.

“Saat gempa pertama, ayah masih bisa saya hubungi. Setelah ada tsunami tidak bisa saya kontak lagi sampai keesokan harinya,” katanya mengenai kedua orang tuanya yang kini tinggal di pengungsian itu.

Dengan suara lantang dan menyayat hati, Aulia membawakan lagu itu diiringi petikan gitar teman satu kampusnya Fajar, asal Baubau.
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok PPIT Cabang Changsha, Cindy Utami Ramos menyebutkan acara penyambutan mahasiswa baru pada tahun Ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

“Kita masih dalam suasana duka atas saudara kita yang menjadi korban bencana di Palu,” kata mahasiswi asal Tana Toraja Sulawesi Selatan itu.

Lagu “Baku Jaga” berbahasa Manado yang pernah dipopulerkan grup Band Ungu menjadi viral beberapa saat setelah bencana di Sulteng. Sigit Purnomo alias Pasha merupakan vokalis Ungu yang memopulerkan lagu itu saat belum menjabat Wakil Wali Kota Palu.

Sebelumnya PPIT telah melakukan penggalangan dana untuk korban bencana di Sulteng hingga berhasil menyalurkan lebih dari Rp200 juta.

Selain hiburan menyanyi dan menari, acara penyambutan mahasiswa baru di Changsha itu juga diisi sosialisasi Pemilu 2019 oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri PPLN Beijing.

Mayoritas pelajar asal Indonesia di tempat kelahiran Mao Zedong pendiri Republik Rakyat China itu dikategorikan sebagai pemilih pemula pada Pemilu 2019.

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 angkat tema “Kisah Bahagia”

Jakarta (ANTARA News) – Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 resmi digelar di Museum Nasional, Jakarta, pada 3-4 November, dengan mengangkat tema “Kisah Bahagia.”

“Semua cerita dikemas dalam kisah bahagia, misalnya cerita tradisional diangkat dari sudut pandang bahagia, semua cerita akan dalam nuansa yang sama,” ujar Direktur Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 Widita Kustrini dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, perhelatan ini untuk memenuhi rasa rindu akan kisah-kisah bahagia, sekaligus memperkenalkannya kepada anak-anak generasi selanjutnya.

Tahun ini, dua pendongeng internasional hadir untuk meramaikan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 yaitu Giovana Conforto dari Italia dan Richard Dian Vilar dari Filipina.

“Saya sangat terkesan dengan jumlah partisipan yang ikut dalam acara ini. Biasanya festival dongeng hanya berukuran kecil, tapi ini sangat besar,” ujar Giovana Conforto.

Keterlibatan pendongeng asal luar negeri, menurut Widita, dapat menjadi cara baru bagi anak-anak untuk mengenal budaya negara lain dalam mendongeng.

“Negara lain banyak yang menggunakan musik, kekhasan itu lah yang akhirnya ingin diperkenalkan juga ke masyarakat Indonesia, bukan semata-mata bahasanya, tapi juga budayanya,” kata dia.

Widita mengungkapkan tahun ini ada lebih dari 100 relawan yang terlibat dalam festival, ditambah kurang lebih 40 pendongeng, serta 40 orang paduan suara dari Infinito Singers yang akan berkolaborasi bersama pendongeng.

Tidak hanya dongeng sambil bernyanyi, ada pula dongeng menggunakan boneka tangan. “Ini akan semakin menarik karena akhirnya semakin banyak jenis dongeng yang berkolaborasi,” ujar Widita.
  Suasansa salah satu panggung di mana pendongeng sedang bercerita dihadapan anak-anak dalam Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (3/11/2018). (ANTARA News/Arindra Meodia)

Selain pertunjukkan, ada pula kelas workshop yang ditujukan bagi orang tua untuk mendapatkan inspirasi dalam berdongeng.

Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini skema Festival Dongeng Internasional Indonesia akan menghadirkan kelas dongeng, kelas kriya dan pasar cerita pada hari pertama, kemudian pertunjukkan dongeng pada hari kedua.

“Tahun lalu yang datang 7 ribu orang dalam dua hari, tahun ini kami menurunkan targetnya menjadi 5 ribu orang karena formatnya yang berubah,” kata Widita.

Meski diperkirakan akan berdampak pada jumlah pengunjung, dengan skema tersebut Widita berharap pengunjung akan lebih fokus dan menikmati festival.

Seorang pengunjung, Widia Andikawati (36) yang datang bersama dua orang anaknya Adrian (5) dan Keysa (9) mengaku sangat antusias dengan adanya festival tersebut.

“Kemarin aku datang acara Ayo Dongeng Indonesia waktu Hari  Dongeng Nasional, anakku senang, makanya sekarang datang lagi. Aku tahu acaranya dari Instagram,” kata Widia.

“Waktu itu cuman satu dongeng, sekarang ceritanya banyak dan pendongengnya ada yang dari luar negeri. Walaupun anakku masih PAUD, belum masuk SD, dia bisa mengerti karena pendongeng dari Italia dan Filipina sangat ekspresif,” sambung dia.

Sejak pertama kali digelar pada 2013, Widita melihat jumlah pengunjung Festival Dongeng Internasional dan Indonesia semakin meningkat, tidak hanya dalam pertunjukkan tetapi juga dalam kelas dongeng.

“Kami benar-benar melihat geliat dongeng terus-terusan membaik. Setiap tahunnya berharap apa yang kami lakukan dapat meemberikan dampak yang dirasakan anak dan keluarga Indonesia,” ujar Widita.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Art Jakarta akan masuki dekade baru pada 2019

Jakarta (ANTARA News) – Pameran seni Art Jakarta akan memasuki dekade baru pada 2019 mendatang, dan bertekad untuk memantapkan posisinya sebagai salah satu art fair terpenting di Asia.

Untuk mencapai visinya itu, Art Jakarta yang memasuki usia ke-10 tahun pada 2018 ini, melakukan sejumlah pembaruan, mulai dari menyusun manajemen baru hingga tempat penyelenggaraan yang lebih besar, bertaraf internasional, dan dengan visi-visi baru.

Art Jakarta pun mengangkat Tom Tandio, seorang kolektor seni rupa yang berperan aktif dalam dunia seni kontemporer Indonesia, sebagai Fair Director Art Jakarta, demikian disampaikan Art Jakarta dalam pernyataan persenya di Jakarta, Jumat.

Selanjutnya Tom Tandio akan menyusun tim kerja yang terdiri dari para profesional yang berpengalaman dalam medan seni rupa kontemporer di kawasan ini untuk membantunya menjalankan visi-misi Art Jakarta yang baru.

Tom Tandio pernah terlibat sebagai anggota board Jogja Biennale pada 2011-2013. Sebagai kolektor, Tom punya banyak koleksi yang berfokus pada karya seni rupa kontemporer Asia Tenggara, dan pernah dipamerkan di Song Eun Art Space, sebuah institusi seni rupa terkemuka di Seoul, Korea Selatan.
                                    
“Indonesia, khususnya Kota Jakarta, adalah salah satu pusat penting perkembangan seni rupa di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia. Art Jakarta dapat menjadi forum pertemuan yang baik bagi galeri peserta, seniman, kolektor, kurator bahkan masyarakat umum untuk bersama-sama meningkatkan apresiasi seni,” kata Tom.

Bagi tim manajemen Art Jakarta, keterlibatan Tom Tandio merupakan bagian penting agar Art Jakarta dapat memasuki dekade baru penyelenggaraan art fair bertaraf internasional di Jakarta.

Pengalaman dan profesionalisme Tom Tandio yang telah cukup lama terlibat dalam berbagai kegiatan seni rupa kontemporer di Indonesia dan mancanegara, khususnya dalam kegiatan art fair, diharapkan akan menjadikan Art Jakarta sebagai acara seni rupa internasional yang prestisius, setara dengan berbagai acara serupa di Asia.

Pada tahun 2019, Art Jakarta akan berlangsung pada 30 Agustus hingga 1 September di Balai Sidang Jakarta (Jakarta Convention Center) dan akan menghadirkan beragam karya seni rupa dari galeri dalam dan luar negeri, di area pameran seluas lebih dari 6.000 m2.

Baca juga: Art Jakarta 2017 tampilkan live painting “Unity in Diversity†(video)

Pewarta: Suryanto
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Jilbab anti tembem sabet penghargaan Kemenpora

Jakarta (ANTARA News) – Jilbab anti tembem karya Dewi Permata Sari meraih penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga.

Penghargaan tersebut diberikan kepada pemuda dan wirausaha muda yang berprestasi.

Melalui brand Kiciks Muslimah, Dewi dan suaminya, Rosy Andreas mendapat penghargaan untuk kategori wirausaha muda dan pemuda berprestasi di bidang perdagangan dan jasa.

Penghargaan ini diberikan dalam acara Malam Anugerah Kepemudaan 2018 beberapa waktu lalu. Dewi mengaku sangat bangga dan senang bisa mendapatkannya.

“Lewat brand busana muslim Kiciks yang kami kelola, dinilai sudah menginspirasi pemuda Indonesia karena berhasil menjadi couple-preneur yang sukses dengan usaha di bidang fashion dengan ide usaha yang baik dan berkembang lewat bisnis penjualan online,” kata Dewi melalui keterangan yang diterima Antara, Kamis.

Dewi menjelaskan, ide untuk membuat jilbab anti tembem merupakan salah satu nilai lebih hingga ia bisa terpilih sebagai juara 2 untuk penghargaan wirausaha muda berprestasi dari Kemenpora tersebut.
 
“Saya awalnya ikut seleksi, selanjutnya kita menceritakan keunggulan dari produk yang dijual. Dan aku cerita ide usaha hingga inspirasi khimar Antem atau anti tembem itu yang banyak digemari muslimah karena bisa menyamarkan bentuk wajah yang tembem,” terang Dewi.
 
Melalui penghargaan ini, Dewi dan Rosy berharap bisa terus menghadirkan inovasi baru dengan konsep busana syar’i yang flowery dan digemari kaum muslimah baik di Indonesia hingga ke mancanegara.

Selain jilbab antem, Kiciks Muslimah juga memproduksi dress, khimar dan mukena. Jenisnya pun berbeda-beda, ada yang untuk daily look hingga koleksi premium dengan brand “Dewi Permata”.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Pemkot Bandung resmikan pusat kebudayaan dan kesenian

Bandung (ANTARA News) – Pemerintah Kota Bandung meresmikan kawasan pusat kebudayaan dan kesenian Teras Sunda di Cibiru, yang dirancang sebagai salah satu destinasi wisata baru di Kota Kembang.

“Teras Sunda harus menjadi destinasi wisata. Wisatawan harus datang ke sini. Ibaratnya, kalau ke Mekkah belum lengkap kalau tidak ke Madinah. Ke Kota Bandung juga belum lengkap kalau belum datang ke Teras Sunda,” ujar Wali Kota Bandung, Oded M. Danial, Rabu.

Oded mengatakan, pemerintah sengaja membangun Teras Sunda Cibiru sebagai wadah berkumpul serta kreasi dari para pegiat seni yang ada di Kota Bandung.

Ia pun meminta agar Teras Sunda Cibiru dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin seperti menggelar kegiatan budaya tiap akhir pekan.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka bakal banyak wisatawan yang datang ke Teras Sunda ini,” kata dia.

Namun Oded mengingatkan, untuk menghadirkan wisatawan tak hanya cukup dengan atraksi. Teras Sunda juga harus menghadirkan kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan. Teras Sunda harus tetap bersih dan asri.

“Toiletnya juga tolong dirawat. Ini pesan saya, tolong rawat Teras Sunda ini,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, pembangunan Teras Sunda menggunakan anggaran sekitar Rp7,9 miliar.

Anggaran tersebut untuk membangun aula, rumah seniman, tempat workshop,dan mushola. Sedang untuk interior, baru akan dianggarkan pada tahun 2019 mendatang.

“Tempat ini memang akan menjadi laboratorium seniman Kota Bandung. Para seniman berkarya dan menciptakan seninya di sini. Kemudian juga bisa dipamerkan atau dipertunjukan di sini juga,” tutur Kenny.

Senada dengan Oded, Kenny juga berharap, seniman dan warga yang aktif di Teras Sunda ikut merawatnya. Karena merawat akan lebih sulit dibandingkan sekedar membangun.

“Mari kita rawat dan jaga bersama-sama Teras Sunda Cibiru ini,” katanya.

Teras Sunda didominasi oleh bambu. Bambu dipilih karena bambu menjadi salah satu ciri budaya Sunda. Bambu juga dinilai lebih dekat dengan alam.

Baca juga: Chongqing siap bantu selesaikan monorel di Bandung

Baca juga: Gubernur enggan tanggapi polemik Sekda Kota Bandung

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Seniman Dedi perkenalkan seni kinetik berbahan dasar kayu jati

Jakarta (ANTARA News) – Seni kriya kinetik ini masih terdengar baru di telinga awam. Kendati begitu, seniman Dedi Shofiyanto justru memperkenalkan seni gerak—gabungan antara karya tiga dimensi dan mekanika—dengan mengambil rupa hewan yang ada di sekitar kita dan budaya Indonesia sejak tahun 2013.

“Saya melihat bahwa event-event pameran itu menampilkan karya seni statis. Kemudian, di tahun 2013, saya mencoba mengombinasikan antara seni dan teknologi agar karya itu menarik dilihat audiens,” ujarnya saat dihubungi Antara, Senin. 

Dedi mengambil tema hewan yang biasa dia jumpai saat dirinya kecil dulu, yakni kumbang wangwung. 

“Kumbang dari kayu ini tidak diam saja, tapi juga bergerak. Ada slow motion, sehingga audiens dapat menikmati gerakannya. Karya ini menggabungkan motor berupa dinamo,” imbuh alumnus ISI Yogyakarta. 

Ternyata, Dedi mengajak audiens untuk menikmati gerakan lambat dari karyanya itu berkat bantuan dinamo atau sensor, atau tuas. Atau perpaduan di antaranya. 

Menurut Dedi, seniman kriya kinetik umumnya menggunakan material besi. Namun, dirinya lebih memilih material kayu, yakni kayu jati. 

“Saya lebih menguasai kayu dibanding besi. Memang tidak presisi kalau dibandingkan besi, tapi justru adalah nilai lebihnya. Kadang terlalu simetris itu membosankan,” ungkap seniman yang tengah mengambil studi pasca sarjana di ISI. 

Untuk hasil akhirnya, Dedi bercerita bahwa dirinya tidak menggunakan pelitur karena kayu akan mudah mengelupas. 

“Kayu jati itu kan kayu berkualitas bagus dan memiliki kadar minyak. Jadi, cukup melakukan sangling atau menggosok kayu dengan daun pisang murni. Nantinya, kayu itu akan mengeluarkan minyak dengan sendirinya dan mengilat dengan sendirinya,” paparnya. 

Dedi selain membuat seri kumbang dalam karyanya, juga membuat seri angsa dan garuda. Salah satu yang menarik adalah seri garuda yang menyimpan pesan nasionalisme. 

“Garuda Pancasila yang ada di Otten Coffee itu kepala bisa menoleh ke kanan dan dapat mengepakkan saya. Judulnya “Harapan”. Masih banyak harapan di Indonesia yang belum tersampaikan. Saatnya kita fokus ke depan,” terang seniman yang akan berangkat ke Taiwan Exhibition dalam waktu dekat. 
 

Pewarta: Anggarini Paramita
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Membawa gamelan ke sekolah-sekolah Inggris

London (ANTARA News) – Lewat program Gamelan Goes to School, pemain dan guru gamelan Aris Daryono mengenalkan alat musik tradisional Indonesia itu kepada murid-murid sekolah di Inggris.

Menurut Aris, yang menetap di London sejak 1999, program itu juga menjangkau murid Marlow Church of England Infant School yang berada di Marlow, daerah di Buckinghamshire yang indah dan dihuni kalangan menengah ke atas termasuk selebritas.

Pria kelahian Sukoharjo yang menyelesiakan PhD di York University itu mengatakan program pengenalan gamelan dan budaya Indonesia di sekolah-sekolah umumnya mendapat sambutan positif dari murid maupun orangtua murid. Jumlah sekolah yang mengikuti program gamelan dan wayang masuk sekolah juga menurut dia makin banyak.

Kepada Antara di London, Sabtu, ia menjelaskan dalam setiap proyek yang berlangsung lima hari penuh disampaikan materi pengenalan tentang Indonesia melalui alat alat peraga, belajar gamelan, membuat wayang, permainan, dan membuat cerita berdasarkan cerita rakyat Indonesia, serta pementasan hasil proyek di sekolah dengan kehadiran orangtua.

Penyampaian yang menarik disertai dengan alat peraga, menurut dia, membuat para siswa antusias mengenal fakta menarik tentang Indonesia semisal letak negara, jumlah pulau, gunung merapi, penduduk, suku dan bahasa serta flora dan fauna unik di setiap kepulauan.

“Sesi bermain gamelan tidak kalah serunya,” kata Aris.

“Mereka sangat antusias menyanyikan lagu gamelan dan memainkan alat dengan tidak lupa mencopot sepatu dan tidak melompati gamelan yang menjadi adat bermain gamelan,” ia menambahkan.

Dalam program pengenalan budaya Indonesia itu, para pelajar juga diajak menggunting kertas dan menghiasi wayang dengan karakter hewan yang dipelajari sebelumnya seperti harimau sumatra, orangutan, cendrawasih, kancil dan komodo.

Dan saat waktu pentas tiba pada akhir proyek, semua antusias. Para guru dan orangtua memberikan dukungan dan semangat, dan rela berdesakan menyaksikan karya murid dan anak mereka.

Mereka menyambut dengan senyum, tawa dan tepuk tangan pentas cerita yang disusun berdasarkan cerita rakyat Indonesia seperti Si Kancil, Ajisaka maupun Loro Jonggrang.

Aris mengatakan semenjak awal pelaksanaan proyek tahun 2012, dia selalu mendapat kesan positif baik dari siswa, guru maupun orangtua murid. Bahkan sebagian siswa menyebut program belajar tentang budaya Indonesia sebagai “proyek terbaik”.

Para guru pun, menurut dia, mengemukakan bagaimana proyek tersebut mendukung kurikulum nasional di Inggris yang juga mencakup bidang musik dan seni karena mengajari para murid bermain gamelan, seni membuat wayang, drama dan geografi, sastra, fisika (lewat penataan lampu untuk menghasilkan bayangan dalam pementasan wayang), apresiasi budaya, serta desain dan teknologi membuat wayang.

Dari Gamelaning

Sejak 2012, melalui pusat informasi gamelan, Gamelaning, Aris bekerja sama dengan KBRI di London untuk mengajak siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Inggris mengenal kebudayaan Indonesia melalui proyek Gamelan dan Wayang.

Aris, yang pernah belajar di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta dan Guildhall School of Music and Drama di London, bekerja sama dengan organisasi seni pemerintah mau swasta di Inggris untuk menyebarluaskan informasi mengenai program Gamelan Goes to School.

Menurut guru dan pemain gamelan juga juga seorang komponis itu setiap tahunnya kurang lebih ada 1.000 siswa dari beberapa wilayah di Inggris yang mengikuti program itu.

Program tersebut menurut dia sangat efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara dan semestinya digalakkan.

Selain memperkenalkan budaya Indonesia ke murid sekolah, Aris mengajak masyarakat di Inggris mengenal gamelan dan budaya Indonesia, serta menginisiasi pembentukan kelompok belajar gamelan Jawa di KBRI London.

Aris juga mendorong komponis dunia dan musisi dunia mengeksplorasi gamelan sebagai sarana penciptaan musik baru melalui Gamelan Composer’s Forum.

Organisasi yang terbentuk pada 2013 itu bekerja sama dengan musisi dan komponis dari berbagai negara menggelar acara Concert and Discussion of New Music for Gamelan di School of Oriental and African Studies, London.

Baca juga:
Dua universitas di Wina buka kelas gamelan
KBRI Seoul promosi E-Macapat dan E-Gamelan di Seoul

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Pameran “Batik 3 Negeri” berlangsung pada 25-27 Oktober 2018

Jakarta (ANTARA News) – Batik Tiga Negeri merupakan salah satu gaya batik yang sudah ada sejak 1910, namun tidak banyak masyarakat yang mengenal tentang sejarahnya. Oleh karena itu, diadakan sebuah pameran bertajuk “Batik 3 Negeri Solo – Sebuah Legenda”.

Batik Tiga Negeri secara umum memiliki tata warna merah, biru dan soga meski dalam perkembangannya terdapat penambahan warna lain seperti hijau dan ungu. Motif utama dalam batik ini berupa buketan, daun dan bunga.

Di Solo, batik Tiga Negeri secara eksklusif dibuat oleh pengusaha batik peranakan Tionghoa. Ny. Tjoa Giok Tjiam adalah pengusaha batik peranakan yang pertama kali mempopulekan batik ini pada tahun 1910.

Batik Tiga Negeri sangat unik karena proses pembuatannya dilakukan di sentra batik yang berbeda, misalnya untuk warna merah dibuat di Lasem dan biru serta soga dibuat di Solo.

Batik ini sendiri memiliki banyak peminat di daerah Jawa Barat sehingga membuka peluang bagi pengusaha batik peranakan lainnya di Solo untuk memproduksi batik sejenis dengan nama yang sama.

“Kami memutuskan membuat pameran ini karena kolektor batik awal dan lama pasti mengoleksi kain batik Tiga Negeri. Batik Tiga Negeri ini enggak mahal tapi bagus. Jadi kami ingin mengenalkan batik Tiga Negeri, murah tapi indah dan batik ini menorehkan sejarahnya di industri perbatikan Indonesia,” ujar Dwita Herman selaku ketua penyelenggara dalam pembukaan pameran “Batik 3 Negeri” di Jakarta, Kamis.

Pameran ini akan berlangsung pada 25-27 Oktober 2018 di Nusantara Ballroom The Dharmawangsa Hotel.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Peragaan Busana Cottonink

Model memperagakan busana persembahan “COTTONINK” pada Jakarta Fashion Week 2019 hari ke-5 di Senayan City, Jakarta, Rabu (24/10/2018). Pada peragaan busana tersebut “COTTONINK” mempersembahkan sejumlah rancangan dari beberapa artis diantaranya Isyana Sarasvati, Dian Sastrowardoyo, Vanesha Prescilla dan Raisa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Yogyakarta ditetapkan sebagai kota kebudayaan ASEAN

Yogyakarta  (ANTARA News) – Yogyakarta ditetapkan sebagai Kota Kebudayaan ASEAN (ASEAN City of Culture) oleh para menteri ASEAN untuk urusan kebudayaan dan kesenian (ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts/AMCA) dalam pertemuan AMCA ke-8 di Yogyakarta.

“Yang paling penting bagi kita ini peristiwa bersejarah ditetapkannya Yogyakarta sebagai ASEAN City of Culture pada periode 2018-2020. Jadi,  ini sebuah pengakuan dari masyarakat ASEAN terhadap Yogyakarta yang telah dipilih sebagai kota budaya ASEAN untuk 2018-2020,” kata Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta dalam konferensi pers tentang pertemuan AMCA ke-8 di Yogyakarta, Rabu.

Ia berharap kota-kota lain di Indonesia dapat mengikuti Yogyakarta menjadi kota kebudayaan ASEAN.

Dia mengatakan Yogyakarta juga mencerminkan identitas dari ASEAN, yaitu masyarakat majemuk dengan adanya inklusivitas, keamanan, dan kedamaian.

“Dengan harapan tentu nanti kota-kota lain akan menyusul karena peran kebudayaan sebagai DNA di dalam menyongsong peradaban ke depan itu menjadi amat  penting, jadi disepakati banyak yang berpendapat bahwa paspor kemanusiaan masa depan itu terletak di kebudayaan karena itu roh dari peradaban masa depan,” ujarnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan penetapan Yogyakarta sebagai Kota Kebudayaan ASEAN bertepatan juga dengan Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan AMCA ke-8.

“Jadi, setiap tuan rumah diberi kewenangan untuk menunjuk salah satu kotanya untuk menjadi Kota Kebudayaan ASEAN,” katanya.

Penunjukkan Yogyakarta sebagai Kota Kebudayaan ASEAN langsung mendapat persetujuan penuh dari para delegasi negara anggota ASEAN.

“Kita di sini nanti selama dua tahun akan menjadi `city of culture` artinya setiap negara yang menjadi penyelenggara pertemuan tingkat menteri ASEAN ini menunjuk `city of culture`,” tuturnya.

Dia menuturkan dengan dipilihnya Yogyakarta sebagai Kota Kebudayaan ASEAN maka kegiatan-kegiatan di kota itu harus melibatkan dan mengedepankan prinsip budaya pencegahan, memperkuat kegiatan-kegiatan yang mengangkat budaya pencegahan dengan mengikutsertakan keterlibatan internasional antara  ASEAN dan tiga mitra dialognya China, Korea, dan Jepang.

Predikat Kota Kebudayaan ASEAN diserahkan dari Kota Bandar Seri Begawan di Brunei Darussalam kepada Yogyakarta. Yogyakarta menajdi kota kelima di ASEAN yang dipilih sebagai Kota Kebudayaan ASEAN yang mewakili berbagai aspek tujuan Deklarasi ASEAN tentang Budaya Pencegahan, khususnya dari segi pembangunan budaya damai dan kesepahaman antarbudaya.

Yogyakarta menyelenggarakan Festival Seni ASEAN pada Rabu dengan menampilkan para seniman dari negara-negara anggota ASEAN dan tiga mitra dialognya, yakni China, Korea, dan Jepang.

Festival itu merupakan contoh bagaimana ASEAN dapat menggunakan kebudayaan untuk memajukan warisan dan tradisi kawasannya, merayakan keberagaman budayanya, dan membina persahabatan yang panjang di antara masyarakat ASEAN dan tiga partner dialognya. 

Baca juga: Negara ASEAN berkomitmen jaga stabilitas kawasan
Baca juga: Negara ASEAN berencana latihan maritim dengan militer AS

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Melukis Mural Kota Tua

Seniman jalanan melukis mural di Jalan Pintu Besar Selatan Kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (23/10/2018). Kegiatan yang diprakarsai Komunitas Alumni ITB Pecinta Kota Tua Jakarta tersebut untuk memperindah kawasan tersebut serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Tua. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Didiet Maulana kawinkan tenun dengan Mickey Mouse

Jakarta (ANTARA News) – Seperti apa hasilnya bila karakter ikonik Mickey Mouse dikawinkan dengan tenun Indonesia? 

Perancang Didiet Maulana dari IKAT Indonesia memamerkan hasil karya berupa paduan tenun dengan karakter animasi Disney dalam peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2019. 

Disney bekerjasama dengan label fashion Indonesia dalam rangka perayaan 90 tahun Mickey Mouse sejak tampil di film pendek “Steamboat Willie” pada 18 November 1928.

Sebanyak 12 looks ditampilkan di “Disney’s Mickey Mouse: The True Original”, Senin malam, terdiri dari variasi busana seperti kaos, terusan, kemeja, terusan, rok hingga celana pendek.

Didiet melengkapinya dengan beragam aksesoris berbau Mickey Mouse seperti sepatu hingga boneka. 

Baca juga: Denis Setiano, satu-satunya penyulih suara Mickey Mouse di Indonesia
  Koleksi IKAT Indonesia di peragaan busana Disney’s Mickey Mouse: The True Original di Jakarta Fashion Week 2019, Senin (22/10/2018) (ANTARA News/ Chairul Rohman)

Mickey Mouse selaras dengan corak tenun dengan warna-warna alam seperti merah tua dan biru. Siluet-siluet kepala tikus terkenal itu berpadu serasi tanpa terlihat mencolok.

“Menyatukannya sangat menantang… kami pilih beberapa karakter tenun ikat yang bisa nyambung dengan Mickey,” ujar Didiet sebelum peragaan busana di Jakarta, Senin petang.

Lima bulan lamanya dihabiskan oleh Didiet untuk membuat Mickey Mouse terlihat serasi dengan kekayaan kain Indonesia. 

“Saya diberi kebebasan untuk membuat any kind of product fashion,” katanya.

Baca juga: Tenun ikat Didiet Maulana jadi pakaian barbie

Didiet ingin memperlihatkan ciri khas dari tahun kelahiran Mickey Mouse, 1928. Ia memasukkan konsep art deco yang jadi tren pada masa itu ke siluet-siluet Mickey Mouse di busana-busananya.

Sebanyak 50 variasi fashion item yang harganya berkisar di atas Rp200.000 hingga Rp800.000 itu dijual secara online melalui e-commerce JD.ID.

Antusiasme penggemar Mickey Mouse terlihat dari ludesnya beberapa produk, seperti kemeja dan kaos meski busana itu baru resmi dirilis usai peragaan busana malam ini. 

Selain IKAT Indonesia, koleksi yang terinspirasi Mickey Mouse juga dihadirkan oleh Matahari, Pop U, SUQMA dan UBS Gold.

Baca juga: Didiet Maulana: Kain Ikat bentuk komitmen saya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

5 negara ramaikan “Jagakali Internasional Art Festival”

Cirebon  (ANTARA News) – Jagakali Internasional Art Festival ke-7 yang digelar di Sungai Pacit Kota Cirebon, Jawa Barat, diramaikan oleh delegasi dari lima negara yang ikut menampilkan kesenian dan budayanya selama acara berlangsung.

“Ada lima negara yang mengutus delegasinya yaitu  Amerika Serikat, Korea, Filipina dan Meksiko,” kata penggagas Festival Seni Jagakali Internasional, Nico Broer Permadi di Cirebon, Jumat.

Ke lima negara itu, kata Nico, diwakili oleh mereka yang memang berkecimpung dalam isu lingkungan hidup, terutama masalah pencemaran sungai.

Dia mengatakan festival Jagakali sudah digelar selama enam kali dan saat ini merupakan yang ke-7. Pada tahun-tahun sebelumnya ajang tersebut hanya menggunakan nama Jagakali Art Festival saja.

“Akan tetapi pada tahun ini, karena ada dari utusan beberapa negara, maka ditambahkan nama `International`,” ujarnya.

Nico mengatakan Jaga Kali Art Festival yang ke-7 ini diselenggarakan di Sungai Pacit Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, selama tiga hari yaitu 19-21 Oktober 2018.

Festival itu sendiri, dilaksanakan di bantaran Sungai Pacit, sebuah sungai yang melintasi wilayah Kota Cirebon.

Mereka memanfaatkan sebuah kedung atau lekukan sungai  dan bantaran sungai sebagai tempat pelaksanaan festival, tempat pameran, panggung dan juga kegiatan lain yang berhubungan dengan acara festival tersebut.

Jagakali Internasional Festival Art yang digelar oleh para pecinta lingkungan ini, kata Nico, merupakan kampanye kepada masyarakat dalam upaya merawat sungai dari pencemaran  melalui seni dan budaya.

“Kita mengampanyekan tentang lingkungan kepada masyarakat melalui seni terutama yang berkaitan dengan isu-isu sungai,” katanya.

Festival yang berkonsep seni  budaya itu mengampanyekan kepada masyarakat agar selalu menjaga sungai dan lingkungan dari pencemaran sampah dan limbah.

“Melalui seni dan budaya diharapkan masyarakat lebih sadar lagi dan juga mau bersama-sama untuk menjaga sungai,” ujarnya.

 
Baca juga: Peringati Hari Batik, Cirebon gelar festival topeng
Baca juga: Gubernur Jabar buka Festival Keraton Nusantara Ke-11 di Cirebon

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

50 seniman bergabung di Indonesian Contemporary Art & Design 2018

Jakarta (ANTARA News) – Yayasan Design+Art Indonesia kembali menggelar pameran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) yang melibatkan 50 pelaku kreatif lintas disiplin.

Acara tahunan ini sudah diselenggarakan untuk kesembilan kali, berlangsung di grandkemang Hotel Jakarta dari 18 Oktober – 30 November 2018.

“ICAD ini punya keunikan cakupan yang lebih luas,” kata Joshua Simanjuntak, Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis. 

“BEKRAF mendukung terus agar terus berkembang, agar makin banyak pelaku kreatif yang terlibat,” ujar dia, menambahkan kualitas penyelenggaraan ICAD yang semakin bagus tiap tahun. 
Tema yang diusung kali ini adalah “Kisah”, berisi karya lebih personal dari seniman yang mengekspresikan buah pikiran atau rekam jejak pengalaman dalam proses berkarya. 

50 pelaku kreatif dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat di antaranya pelukis Irawan Karseno, arsitek Ruby Roesly, perancang grafis Tatang Ramadhan, desainer produk Joshua Simanjuntak, White Shoes and The Couples Company, kolektif perupa Milisfilem Collective, penyair PM Toh hingga komikus Hikmat Darmawan.

Karya-karya yang ditampilkan dikurasi oleh Hafiz Rancajale dan Harry Purwanto.

ICAD tahun ini juga memamerkan karya seniman asing, seperti Joris Vanbriel dan Vanessa dari Belgia yang mendayagunakan bahan daur ulang.

Akan ada juga pertunjukan kontemporer “Kisah Batik” dari Desainer Amanda Hartanto berkolaborasi dengan PM Toh.

Tak cuma karya seni, ICAD 2018 juga menghadirkan tokoh kreatif yang akan berbagi wawasan. 

Ada lokakarya film yang menampilkan produser Mira Lesmana dan Jon Kuyper, production executive film “The Hunger Games”.

Ada pula forum seni dan budaya yang membahas strategi kebudayaan nasional dalam lingkup arsitektur dan tata kota, produk dan kerajinan serta seni visual. 

Selain itu ada “Kisah Komik” yang menghadirkan Paul Gravett, penulis asal Inggris serta Iwan Gunawan.

ICAD adalah pameran besar kolaborasi desain, seni, teknologi, hiburan dan industri perhotelan. 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Festival Saprahan meriahkan HUT Pontianak ke-247

Pontianak  (ANTARA News) – Sebanyak 30 kelompok tampil menyajikan hidangan saprahan dalam Festival Saprahan yang digelar Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Pontianak di Pontianak Convention Center, Rabu, dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak ke-247.

 Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono di sela acara mengatakan, Festival Saprahan ini sudah selayaknya memiliki standarisasi, baik cara penyajiannya, penampilannya, peralatan makannya, hingga makanan yang dihidangkan.

“Kita akan menetapkan SOP saprahan supaya memiliki standar, misalnya jenis makanan yang wajib dihidangkan, makanan tambahan, pakaian pembawa saprahan dan sebagainya,” ujarnya.

Edi menilai, dari tampilan dan rasa makanan yang disajikan oleh peserta dalam saprahan (tradisi makan bersama) sudah semakin baik.

 Pada acara tersebut, satu persatu peserta dengan memakai pakaian khas Melayu Pontianak, baju kurung, memasuki area yang sudah disiapkan panitia, kemudian mereka membawa berbagai hidangan dan menatanya di atas lantai yang beralaskan kain.

 Paceri nanas yang menjadi hidangan menonjol dalam saprahan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 Meskipun budaya saprahan secara umum juga ada di daerah lain di wilayah Kalbar, namun Edi menegaskan, ada beberapa perbedaan dengan Saprahan Melayu Pontianak.

“Beberapa perbedaan, misalnya cara menghidangkannya, makanannya maupun penampilan pembawa saprahan,” katanya.

  Edi berharap, Festival Saprahan yang rutin digelar setiap tahun ini bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terutama generasi muda sehingga mereka bisa ikut melestarikan budaya saprahan ini.

 Sementara itu, Gubernur Kalbar, Sutarmidji menuturkan, saprahan sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud.

Selain saprahan, ia juga menyerahkan empat sertifikat budaya yang telah ditetapkan sebagai warisan tak benda, di antaranya, paceri nanas, sayok keladi, kain tenun corak insang dan arakan pengantin.

  “Kuliner ini menjadi pilihan wisata di suatu daerah maka kita harus melindungi hasil karya, hasil cipta kita agar tidak diklaim oleh orang lain,” tegasnya.

 Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu berasal dari kata “Saprah yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya. 

 Dalam makan Saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain Saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

  Untuk menu hidangan di antaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah. 

  Plt Ketua TP PKK Kota Pontianak, Yanieta Arbiastuti menjelaskan, peserta Festival Saprahan ini berusia maksimal 40 tahun. “Ini dimaksudkan supaya kaum muda lebih paham dan mengenal serta melestarikan nilai-nilai budaya makan saprahan Kota Pontianak,” jelasnya.

 Untuk kriteria penilaian, kata dia, selain rasa makanan yang dihidangkan, kekompakan, penampilan peserta dan lainnya juga menjadi aspek penilaian dewan juri.

  Dari 30 kelompok peserta yang berasal dari 29 kelurahan, Kelurahan Benua Melayu Laut berhasil merebut juara pertama. Disusul juara kedua dari Kelurahan Darat Sekip dan ketiga Kelurahan Saigon. Masing-masing pemenang mendapatkan hadiah berupa trofi dan uang tunai.

Baca juga: Festival Arakan Pengantin meriahkan HUT Pontianak
Baca juga: Beragam permainan rakyat meriahkan HUT Pontianak
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Jerami Grobogan

Warga mengunjungi Festival Jerami di Desa Banjarejo, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (17/10/2018). Festival itu berlangsung 17-28 Oktober 2018 dengan menampilkan diorama hewan purba seperti dari jerami itu untuk mengenang wilayah tersebut sebagai lokasi ditemukannya fosil hewan purba, sekaligus untuk menarik wisatawan. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc.

Bekraf laporkan pencapaian ekonomi kreatif lewat buku “Opus 2019”

Jakarta (ANTARA News) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan buku berjudul “Opus 2019″ yang berisi pencapaian lembaga tersebut dan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Opus diharapkan bisa jadi pedoman untuk pemerintah dan bagi pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan karya dan bisnis mereka,” kata Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik saat acara di Jakarta, Rabu.

Dalam buku ini, dijabarkan bagaimana perkembangan 16 subsektor ekonomi kreatif yang berada dalam naungan Bekraf dan bagaimana proyeksi di sektor tersebut pada tahun mendatang.

Menurut data Bekraf, PDB ekonomi kreatif diperkirakan berada di atas Rp1.000 triliun, diperkirakan akan naik menjadi Rp1.200 triliun pada 2019.

Bekraf memprediksi subsektor fesyen, kriya dan kuliner akan tetap menyumbang kontribusi terbesar terhadap perekonomian industri kreatif, apalagi subsektor itu relatif resisten terhadap guncangan ekonomi dunia.

Meski begitu, ada subsektor lain yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru, yaitu film, seni, musik dan game atau animasi.

“Opus 2019” juga mengulas pencapaian Bekraf sejak berdiri dan menjalankan berbagai program oleh masing-masing Deputi Bekraf.

Bekraf pertama kali mengeluarkan pencapaian berupa buku “Opus” pada 2017 lalu, perbedaannya kali ini selain sektor yang terus berkembang, buku ini juga ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

“Untuk memperlihatkan Indonesia signifikan sebagai pemain ekonomi kreatif di mata dunia,” kata Ricky.

Penggunaan bahasa Inggris dalam buku “Opus 2019” ini juga agar dapat dipamerkan di konferensi ekonomi kreatif tingkat dunia yang akan diadakan di Nusa Dua, Bali, pada November mendatang.

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Arkeolog temukan kampung tua di Danau Sentani

Jayapura (ANTARA News) – Balai Arkeologi Papua dalam penelitiannya berhasil menemukan kampung tua di sekitar perairan Kampung Doyo Lama, Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Hari Suroto, salah satu peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua di Kota Jayapura, Rabu mengatakan penelitian yang dilakukan di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura berhasil mengungkap hunian awal prasejarah di perairan Danau Sentani.

“Eksplorasi yang dilakukan di perairan Danau Sentani sekitar Kampung Doyo Lama, berhasil ditemukan bekas-bekas tiang rumah di dalam air,” katanya.

Tiang-tiang rumah itu, kata alumnus Universitas Udayana Bali itu terbuat dari batang pohon soang. Batang kayu jenis pohon ini mampu bertahan ratusan tahun, sehingga secara tradisional oleh masyarakat Sentani dijadikan sebagai tiang rumah.

“Oleh masyarakat Doyo Lama, tempat ditemukannya bekas-bekas tiang rumah ini disebut dengan Ayauge. Dulu manusia yang bermukim di Ayauge, tinggal di rumah panggung di atas air,” katanya.

Ayauge pada masa lalu, lanjut Hari yang berencana mengambil S2 Arkeologi dalam waktu dekat ini, dipilih oleh nenek moyang masyarakat Doyo Lama ketika mereka berpindah dari Pulau Kwadeware, sebuah pulau di tengah Danau Sentani bagian barat.

“Eksplorasi di Ayauge hanya menemukan bekas-bekas tiang rumah, tetapi artefak lainnya belum ditemukan. Hal ini karena terbatasnya alat menyelam,” katanya.

Selain itu, ungkap Hari, Balai Arkeologi Papua juga melakukan survei permukaan tanah di Situs Megalitik Tutari Doyo Lama yang tak jauh dari lokasi ditemukan tiang-tiag rumah dalam Danau Sentani. Dalam eksplorasi ini ditemukan pecahan-pecahan gerabah.

Balai Arkeologi Papua juga melakukan ekskavasi di Situs Megalitik Tutari di lokasi ditemukannya pecahan gerabah.

“Dalam ekskavasi ini, hanya ditemukan artefak gerabah saja, tidak ditemukan artefak lainnya dan ternyata artefak gerabah hanya ditemukan di tanah lapisan atas, diperkirakan Situs Megalitik Tutari bukan merupakan situs hunian prasejarah tetapi merupakan situs yang berkaitan dengan religi,” katanya.

Pecahan-pacahan gerabah yang ditemukan di situs Megalitik Tutari berdinding tebal, diperkirakan pada masa prasejarah berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan air.

“Pecahan gerabah itu sedang dianalisis di laboratorium, untuk mengetahui asal usul dari mana keberadaannya,” katanya.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Hip Hip Hura Hura

Pengunjung mengamati karya yang dipajang pada pemeran seni bertajuk “Hip Hip Hura Hura” di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (15/10/2018). Pameran yang merespon permasalahan sosial-lingkungan yang terjadi saat ini dengan visual karya dari daur ulang sampah tersebut berlangsung hingga 20 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.

Sate dan nasi goreng jadi favorit di Festival Wonderful Indonesia di India

New Delhi (ANTARA News) – Antrean orang yang hendak menikmati makanan di anjungan sate dan nasi goreng paling panjang di Festival Wonderful Indonesia yang berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, India, Minggu.

Di antara orang-orang yang mengantre ada warga Indonesia yang tinggal di India, warga lokal India, hingga ekspatriat dari berbagai negara yang sudah lama menetap di India.

Jashin juga ikut antre. Ia membeli satu porsi makan siang berisi tiga tusuk sate, gado-gado sebagai pengganti salad, dan nasi goreng seharga 100 rupee atau sekitar Rp20 ribu. Ia memakannya bersama dua orang teman.

“Ini sangat lezat, campuran dari manis asam gurih, rasanya unik, tapi saya suka ini. Ini pertama kali saya coba,” kata Jashin, mahasiswa Universitas Jamia Millia Islamia di New Delhi.

Jashin datang ke festival karena ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia.

“Keberagaman yang Indonesia jaga membuat kami ingin ke sana, mencoba merasakan tinggal di sana, itu alasan kami datang ke sini,” katanya.

Aji, mahasiswa Universitas Muslim Aligarh asal Indonesia, selama dua jam sejak pemmbukaan festival belum sempat rihat dari pekerjaan membakar dan melumuri sate dengan bumbu kacang karena antrean pembeli tak putus-putus.

Selain sate dan nasi goreng, ada juga stan yang menjajakan makanan khas Indonesia lainnya seperti teh, lontong, jajanan pasar dan gorengan. Indomie dengan berbagai varian rasa juga dijual di acara tersebut. Ada pula lokakarya membatik menggunakan canting dan penjualan kain batik.

Sementara panggung festival menghadirkan beragam kesenian Indonesia seperti pertunjukan angklung serta tari Saman, dan tari-tarian lain dari berbagai daerah.

Kementerian Pariwisata dengan sejumlah KBRI di berbagai negara menggelar Festival Wonderful Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner, dan wisata Indonesia.

Di India, festival tersebut diselenggarakan oleh sekelompok anak muda yang tinggal di India yang menamakan diri Wonderful Indonesia Generation atau GenWi.

Baca juga:
KBRI gelar promosi “Wonderful Indonesia” di Italia
Bus wisata Wonderful Indonesia di Lapangan Merah Moskow

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Masjid Cheng Ho Surabaya rayakan 16 tahun kebinekaan

 Surabaya  (ANTARA News) – Masjid Cheng Ho di Surabaya, Jawa Timur, merayakan kebinekaan di ulang tahunnya yang ke- 16 dengan mengundang berbagai lapisan masyarakat dari lintas agama.

“Bisa dilihat dari segenap undangan yang hadir malam ini, tidak semuanya yang perempuan mengenakan kerudung atau jilbab. Karena siapapun dan berasal dari etnis apapun diterima di Masjid Cheng Ho ini,” kata Ketua Pelaksana Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Liemfuk Shan saat dikonfirmasi di sela perayaan HUT ke- 16 Masjid Cheng Ho di Surabaya, Sabtu malam.

Arsitektur Masjid Cheng Ho Surabaya, lanjut dia, sengaja tidak diberi pintu di berbagai sisinya agar siapapun bisa masuk ke dalam.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Islam Tionghhoa Indonesia (PITI) Jawa Timur, Haryanto Satriyo menandaskan, Masjid Cheng Ho yang dibangun di Surabaya pada 2002 merupakan cikal bakal berdirinya Masjid Cheng Ho di berbagai kota lainnya di Indonesia.

“Sampai sekarang sudah berdiri 16 Masjid Cheng Ho di berbagai daerah se- Indonesia,” katanya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho HM Jos Soetomo mengemukakan, Masjid Cheng Ho yang kini sudah banyak berdiri di berbagai wilayah Indonesia membuktikan bahwa Laksamana Cheng Ho, yang dikenal sebagai seorang pelaut dan penjelajah asal Tiongkok yang tersohor di abad ke-14 itu, telah melekat di hati masyarakat Indonesia.

“Kita tidak bisa lahir dengan menentukan berasal dari etnis mana. Seperti saya, misalnya, tidak pernah menginginkan terlahir dari etnis Tionghoa. Nyatanya saya adalah Indonesia. Kita bangsa Indonesia, Allahu Akbar,” ujarnya.

Perayaan HUT ke- 16 Masjid Cheng Ho Surabaya turut mengundang seluruh konsulat jenderal (Konjen) atau perwakiran dari negara-negara sahabat yang ada di Surabaya.

Konjen China di Surabaya Gu Jingqi mengenang Laksamana Cheng Ho yang 611 tahun silam berlayar ke arah Barat hingga sampai ke Indonesia membawa misi sebagai duta besar persahabatan.

“Laksamana Cheng Ho ketika itu berlayar tidak membawa tombak maupun meriam. Beliau membawa sutera dan persahabatan melalui pertukaran kebudayaan dan menyebarkan ilmu pengetahuan,” katanya.

Dia lebih lanjut mengapresiasi Masjid Cheng Ho Surabaya yang telah berdiri selama 16 tahun berkembang dengan pesat dan memberi pengaruh yang semakin luas terhadap masyarakat Indonesia.

“Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho sebagai pengelola Masjid Cheng Ho telah banyak menyumbang, tidak hanya bagi masyarakat etnis Tionghoa tetapi kepada semua etnis. Keberadaan Masjid Cheng Ho telah memberi keharmonisan di masyarakat Indonesia,” katanya.

Baca juga: Masjid Cheng Ho donasikan Rp800 juta untuk korban gempa
Baca juga: NU Jateng bangun masjid darurat di Lombok

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Rekor Dunia Tari Jipeng

Peserta menampilkan Tari Jipeng dalam acara Ciletuh Geopark Festival di Taman Jaya Panenjoan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (13/10/2018). Tarian yang melibatkan 5.113 orang tersebut berhasil memecahkan rekor dunia dan mendapatkan penghargaan dari Record Holders Republic (RHR) atas rekor Tari Jipeng dengan peserta terbanyak. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan/kye

Karnaval Budaya Bali

Seniman membawa gebogan dalam Karnaval Budaya Bali di kawasan Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). Karnaval tersebut merupakan rangkaian acara dari Pertemuan Tahunan IMF – World Bank Group 2018 di Bali. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal/pras.

Landung pentaskan novel karya Mohamad Sobary

Yogyakarta  (ANTARA News) – Aktor senior asal Yogyakarta Landung Simatupang mementaskan lakon “Arya Pengalasan Masuk Istana” yang dipetik dari novel “The President” karya Budayawan Mohamad Sobary di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Jumat malam.

Pentas “dramatic reading” dengan judul “Landung Membaca Kang Sobary: Arya Pengalasan Masuk Istana” itu dibawakan Landung bersama aktor lainnya yakni Daru Maheldaswara dan Patah Ansori.

Di dalam lakon ini Landung memetik 4 dari 8 bab pertama Novel karya Ahmad Sobary dengan menciptakan kembali menjadi sebuah monolog dengan penuh penghayatan.

“Ini novel yang mau bersaksi tentang persoalan besar di negeri ini tentang ideologi negara, persoalan persatuan bangsa serta kesetiaan dan ketidaksetiaan terhadap Pancasila,” kata Landung.

Menurut Landung, dengan mementaskan Novel itu, akan mampu menyelami perenungan Sobary tentang situasi politik yang betul-betul terjadi saat periode kepemimpinan presiden saat ini. 

“Mementaskannya memang agak rumit karena banyak sekali deskripsi daripada dialog. Banyak hal yang tidak mudah misalnya tentang dunia pesantren, tetapi saya merasa banyak orang yang tidak tahu tentang pesantren,” kata Landung.

Dalam lakon itu, dikisahkan sosok Presiden yang tak cemas didemo, tak meradang karena difitnah, dan tak merasa takut menghadapi ancaman.

Presiden memiliki anak buah yang loyal dan siap menghadapi segenap kemungkinan datangnya risiko. Dalam pementasan itu, Presiden juga cenderung memilih bersikap diam dan membiarkan para lawan politiknya bebas menanggapi sikap diamnya itu.

Pada bagian awal novel itu juga dikisahkan kemunculan tokoh muda bernama Arya Pengalasan, seorang santri dari Pesantren Slaga Ima yang mumpuni dalam ilmu kanuragan maupun ilmu kajiwan. Tak mengherankan, dialah yang layak dipercaya memanggul tokoh Abah untuk atas nama dunia pesantren mendampingi Presiden.

Budayawan yang juga mantan Pemimpin Umum LKBN Antara Mohamad Sobary mengatakan novel “The President” karyanya merupakan potret situasi politik di Indonesia saat ini yang ia anggap tidak lagi mampu menghadirkan rasa tenteram.

“Memang menggambarkan atau menampilkan kembali situasi itu dengan langgam dan logika novel,” kata pria yang akrab disapa Kang Sobary ini.

 Melalui Novel itu, ia memotret adanya upaya politisasi agama. Agama tidak digunakan untuk memperdalam iman, penghayatan, dan menebarkan rasa tenteram, namun justru dimanfaatkan sebagai sarana menggapai tujuan politik praktis.

“Agama yang pada dasarnya tenteram, tapi malah dipakai untuk pertempuran,” kata dia.

Ia ragu para tokoh politik saat ini mampu memberikan ketenteraman karena kenyataannya yang dimunculkan lebih banyak suara-suara permusuhan, ancaman, fitnah, iri, dan dengki. Sobary berharap novel karangannya mampu membalikkan logika supaya memberikan kesan, pemahaman, serta perasaan tenteram bagi masyarakat.

“Situasi yang tidak bisa diperbaiki oleh politisi semoga bisa diperbaiki oleh dunia kesenian,” katanya.

Baca juga: Disertasi puitik Mohamad Sobary raih predikat sangat memuaskan
 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sasando di tangan gadis Polandia

London (ANTARA News) – Aga Ujma memainkan Sasando sambil melantunkan lagu Bolelebo saat tampil dalam festival Indonesia Kontemporer (IKON) 2018, yang berlangsung di Kampus SOAS University of London di pusat kota London pada Sabtu (6/10) malam waktu setempat.

Gadis asal Polandia itu memukau para penonton festival dengan paduan lantunan lagu warga Timor dan petikan alat musik khas Pulau Rote.

“Saya senang bisa tampil memainkan alat musik Sasando,” kata Aga kepada Antara usai tampil di IKON, yang juga menampilkan permainan kacapi, gamelan Bali dan angklung.

“Suara sasando sangat luar biasa, tidak ada alat musik yang suaranya seindah sasando,” tambah Aga, anak bungsu dari keluarga pemilik toko di Polandia.

Aga mulai mengenal sasando saat mengikuti program beasiswa Darmasiswa Kementerian Luar Negeri tahun 2015.

Beasiswa Darmasiswa memberi perempuan yang sejak kecil bercita-cita menjadi penyanyi itu kesempatan mempelajari bahasa, seni dan budaya tradisional Indonesia.

Saat tinggal di Solo, Jawa Tengah, Aga belajar gamelan dan komposisi musik, serta menyinden di Institut Seni Indonesia (ISI).

“Saya bergabung dengan kelompok musik dan band lokal, di mana saya dapat berkeliling Indonesia untuk tampil di festival musik,” kata Aga, yang kini menjadi musikus, penyanyi, penulis lagu dan komposer.

“Saya senang tampil dengan lagu-lagu saya di festival seperti Festival Musik Tembi di Yogyakarta, Lanjong Art Festival di Kalimantan, Festival Kesenian Yogyakarta,” katanya.

Di satu festival yang berlangsung di Sumatera tahun 2017, ia bertemu dengan Ganzer Lana, master sasando dari Pulau Rote.

“Saya jatuh cinta dengan suara sasando dan Ganzer Lana setuju untuk mengajar saya bermain Sasando di Yogyakarta, dan petualangan saya dengan sasando dimulai,” kata Aga, yang fasih berbahasa Indonesia.

Aga sejak kecil akrab dengan musik. Ia sejak usia delapan sampai 20 tahun menyanyi di paduan suara lokal serta belajar piano klasik dan teori musik.

Ia sudah tertarik dengan musik Indonesia semenjak belajar musik di University of Wroclaw di Polandia. Ketika berkesempatan belajar di ISI, dia bisa mempelajari alat-alat musik tradisional Indonesia seperti gamelan.

Dia sekarang tinggal di London, belajar musik di SOAS dan bermain dengan Southbank Gamelan Players. Aga, yang suka memainkan gender barung dan siter, juga ikut dalam grup gamelan Inggris yang tampil di International Gamelan Festival 2018 di Solo pada Agustus.

“Saya selalu bepergian antara Inggris, Indonesia, dan Polandia. Sekarang saya menganggap ketiga negara ini adalah rumah saya,” katanya.

Menuntut ilmu di Indonesia juga membuat Aga jatuh cinta dengan seni, budaya, orang-orang, dan makanan Indonesia.

“Makanan favorit saya sayur lodeh, gado-gado, lotek, serabi, lele dan terong penyet,” kata perempuan yang juga suka mengudap tempe mendoan dan tahu isi itu.

Keindahan alam Nusantara membuat dia semakin mencintai Indonesia. Dan dia khawatir polusi akan merusak gunung dan pantai-pantai indah Indonesia.

“Saya khawatir polusi akan menghancurkan lingkungan,” katanya.

Baca juga: Korea Indonesia Film Festival hadir pada 18-21 Oktober
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Dua universitas di Wina buka kelas gamelan

London, 11/10 (ANTARA News) – KBRI Wina bersama University of Vienna dan University of Music and Performing Art Vienna membuka kelas pengajaran Gamelan bagi mahasiswa jurusan etnomusikologi pada periode Oktober sampai akhir Januari 2019.

Pensosbud KBRI Wina, Danurdoro KM Parnohadiningrat kepada Antara London, Kamis menyebutkan pengajaran Gamelan merupakan implementasi kerjasama pada tingkat bilateral, khususnya di bidang Kebudayaan, melibatkan perguruan tinggi setempat di kota Wina. Guna menunjang kesuksesan program, tenaga pengajar Gamelan didatangkan khusus dari Indonesia.

“Kehadiran pengajar gamelan di Austria ini merupakan inisiatif KBRI Wina bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang mensponsori pengiriman tenaga pengajar Gamelan,” ujarnya.

Program pengajaran Gamelan periode winter semester di University of Vienna dibuka Wakil Kepala Perwakilan RI, Witjaksono Adji, bertempat di salah satu aula Universitas, Selasa (9/10) sore.

Dalam pidato pembukaannya, Witjaksono Adji menggarisbawahi seni dan budaya dapat dengan mudah menghubungkan dan mempersatukan bangsa-bangsa.

“Tidak terkecuali Gamelan sebagai alat musik dan perangkat seni-budaya yang dipercayai dapat membangun semangat saling memahami, saling percaya, dan saling menghormati antara masyarakat Indonesia dan Austria, dan punya aspek penting dalam mempererat hubungan antarnegara dan bangsa,” ujarnya.

Melalui program pengajaran Gamelan pada periode musim dingin ini, diharapkan hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan Austria maupun antara masyarakat kedua negara semakin meningkat.

Acara pembukaan Kelas Gamelan dihadiri sekitar 100 orang terdiri dari mahasiswa dan staf pengajar Uniwien dan Universitas MDW, pengurus dan anggota lembaga Persahabatan Indonesia-Austria, masyarakat Austria pecinta seni-budaya Indonesia, dan komunitas Indonesia di Austria.

Promosi seni budaya Indonesia di Austria merupakan salah satu program utama KBRI/PTRI Wina guna meningkatkan citra positif Indonesia di kalangan publik Austria.

Kepala Departemen Musikologi Uniwien, Prof. Christoph Reuter, menyambut dengan sangat gembira atas penyelenggaraan kelas Gamelan dan mahasiswa kedua Universitas sudah banyak yang mendaftar dalam kelas Gamelan.

Ia menyampaikan terima kasih kepada KBRI Wina dan Kementerian Pendidikan RI atas inisiatif dan dukungan pengiriman pengajar Gamelan sehingga para mahasiswa jurusan etnomusikologi di kedua universitas berkesempatan mempelajari alat musik Gamelan.

Pembukaan resmi kelas Gamelan mahasiswa Uniwien dan MDW berlangsung di Uniwien, dimeriahkan penampilan grup Gamelan KBRI Wina Ngesti Budoyo.

Pada acara peresmian Kelas Gamelan, alunan gending, lancaran, dan ladrang oleh grup Gamelan Ngesti Budoyo memukau hadirin yang memadati ruangan.

Grup Gamelan Ngesti Budoyo membawakan empat lagu, yakni “Gending Kebogiro”, “Lancaran Manyar Sewu”, “Ayo Praon”, dan “Ladrang Wilujeng”. Selain itu, acara pembukaan juga dimeriahkan pertunjukan tari Merak dari Sanggar Tari Kirana Tangerang.

University of Music and Performing Arts Vienna adalah salah satu universitas terbesar, tertua dan terkemuka di dunia, khususnya di bidang spesialisasi musik dan seni pertunjukan, teater dan film.

Sekitar 3.000 mahasiswa dari berbagai negara terdaftar untuk menempuh studi pada salah satu dari 115 program bergelar maupun 41 program suplementer yang ditawarkan universitas.

Sementara itu, University of Vienna (Uniwien) adalah salah satu universitas tertua dan terbesar di Eropa yang didirikan pada 1365. Universitas ini mencetak 15 pemenang Nobel dari berbagai masa.

Untuk itu, diharapkan kerja sama antara KBRI Wina dengan institusi pendidikan tinggi di kota Wina di bidang Gamelan dapat meningkatkan citra positif Indonesia di kalangan masyarakat Austria dan memberikan dampak terhadap peningkatan hubungan kedua negara.

Disamping itu, pengajaran gamelan dapat meningkatkan keingintahuan dan minat masyarakat Austria untuk mempelajari lebih jauh mengenai Indonesia dan berkunjung ke Indonesia.

Saat ini pulau Jawa dan Bali masih merupakan daerah tujuan wisata favorit bagi wisatawan Austria yang berkunjung ke Indonesia. Berdasarkan data BPS Indonesia, jumlah wisatawan Austria yang berkunjung ke Indonesia di tahun 2016 mencapai 24.375 wisman, atau meningkat 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

(T.H-ZG/A069)

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pementasan La Galigo

Penari mementaskan teater musikal La Galigo di panggung terbuka pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF – World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018). La Galigo adalah sebuah epos atau cerita dari Bugis tentang perjalanan tokoh Sawerigading dan keturunannya yang dipentaskan untuk menghibur peserta pertemuan tahunan tersebut. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin/foc.

Warga antusias ramaikan Gebyar Budaya Betawi

Jakarta (ANTARA News)  – Para ibu berbaju kurung merah muda dengan jilbab biru bersuka cita ketika mereka memenangkan lomba Gambang Kromong dalam acara Gebyar Budaya Betawi di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB), Jakarta Pusat.

Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanah Abang 3 mengikuti salah satu kompetisi yang digelar dalam Festival Budaya Betawi itu dan berhasil meraih juara pertama se-Jakarta Pusat.

“Iya, kami tidak menyangka bisa menang karena peserta lain penampilannya lebih bagus,” ujar seorang peserta dari RPTRA Tanah Abang 3, Tuti. Pemenang utama mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 12,5 juta dari Sudinpar Jakpus.

Ia bersama rekannya, Yanti mengaku senang dan berbangga mengingat latihan intensif yang dilakukan hanya dua minggu dan tanpa pelatih khusus.

Pembawa acara berbaju koko khas Betawi atau sadariah lengkap dengan kopiah dan ikat pinggang Betawi sempat membuat penonton tergelak lantaran candaannya yang memenuhi audio dengan suara khas kuntilanak ketika juri hendak mengumumkan pemenang.

Tiga juri yang mengambil peran sebagai penentu pemenang lomba Gambang Kromong sempat berseloroh ala Betawi sekaligus memberi beberapa masukan bagi para peserta yang ingin ikut dalam kegiatan berikutnya.

“Nantinya lebih perhatikan lagi kontak mata dan raut muka saat bermain Gambang Kromong. Lagipula, ada banyak inovasi yang dapat dilakukan supaya penampilannya tidak begitu melulu,” kata salah seorang juri.

Beberapa hal yang dinilai kurang pas dengan adat tradisional Betawi yang kerap ditampilkan, contohnya mengalungkan bunga ketika Seni Palang Pintu.

Raut muka antusias dan bahagia juga nampak dari peserta lainnya, mulai dari anak-anak usia sekolah dasar hingga ibu-ibu yang sibuk berjoget dengan alunan musik khas Betawi seperti lagu kicir-kicir dengan penyanyi dan grup musik yang lihai memainkan perangkatnya.

Suasana adat Betawi terasa kentara ketika melihat berbagai hiasan di sudut ruangan, seperti ondel-ondel, alat musik tradisional, dan pengunjung berpakaian seperti abang dan none.

Pegawai Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Pusat selaku panitia penyelenggara, Salma Talalu mengatakan para peserta berasal dari sekolah, sanggar, dan RPTRA di Jakpus.

Kegiatan ini diakuinya adalah perdana dan dilaksanakan berdasarkan keinginan Gubernur DKI Jakarta terkait penyelenggaraan festival kebudayaan sepanjang tahun.

“Ini yang pertama kalinya ada acara seperti ini. Berdasarkan arahan Pak Gubernur yang ingin kegiatan sepanjang tahun,” kata Salma.

Sudinpar Jakpus mengaku RPTRA yang ikut partisipasi merupakan binaan dan difasilitasi dalam rangka menjaga kebudayaan Jakarta.

“Kami hanya memfasilitasi, tergantung RPTRA punya minat di bidang apa, baik angklung, marawis, dan lain sebagainya,” ujarnya lagi.

Sedangkan bagi murid-murid sekolah dasar yang ikut serta, tergabung dalam kegiatan ektra kurikuler kesenian budaya tradisional, seperti Gambang Kromong.

Selain itu, para remaja setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) juga bersemangat dalam menyalurkan bakat dan kreativitas mereka dengan didampingi guru masing-masing.

Namun, penonton yang hadir tidak begitu banyak di gedung yang beralamat di Jalan KH. Mansyur tersebut. Pengunjung didominasi oleh para peserta dan Sudinpar Jakpus. Masyarakat lainnya tidak begitu memenuhi acara, mengingat acara dilangsungkan saat hari kerja.

Festival yang berlangsung hingga 11 Oktober   itu akan menjalani acara puncak berupa pengumuman pemenang pada tanggal 12 Oktober di RPTRA Madusela, Kelurahan Mangga Dua Selatan, Sawah Besar.

Khusus hari Rabu (10/10) panitia menyelenggarakan lomba Gambang Kromong, sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan.

“Ada pula lomba lenong, nonton ya. Pasti ramai. Tiap kelompok punya waktu 30 menit untuk menampilkan lenong, bisa sampai seharian,” ujar Salma.

Sebelumnya, Seni Palang Pintu yang merupakan adat khas Betawi ketika pernikahan sambil membawa roti buaya juga digelar, termasuk beberapa kegiatan seni turut dilombakan, seperti Pencak Silat.

 Wali Kota Jakarta Pusat, Bayu Meghantara mengatakan Gebyar Budaya Betawi bertujuan untuk menggali, mengembangkan, melestarikan, meningkatkan, dan membina seni Betawi khususnya di Jakpus.

“Acara ini merupakan wujud dari upaya kami untuk berperan aktif dalam mendukung pelestaraian dan perkembangan seni budaya lokal di Jakarta,” ujar Bayu.

Selain itu, kegiatan yang diselenggarakan dari 8 Oktober ini diharapkan  dapat diapresiasi dan bisa memotivasi para seniman di Jakpus lebih bersemangat berkarya.

Dalam Gebyar Budaya Betawi, bibit-bibit unggul dalam bidang kesenian Betawi dapat terlihat dan dikembangkan.

“Saya bahagia dan bangga menyaksikan masyarakat Jakpus masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian dan pengembangan Seni Palang Pintu, Pencak Silat, Gambang Kromong dan Lenong yang dibuktikan melalui terselenggaranya kegiatan ini,” ucap Bayu.

Festival budaya Betawi itu diikuti oleh 907 orang dari 65 grup yang berasal dari berbagai sanggar kesenian dan sekolah yang ada di Jakpus.

Pemkot Jakpus menjadikan acara itu sebagai upaya pelestarian budaya dan penyemarak Asian Para Games 2018 yang tengah berlangsung hingga 13 Oktober.

Baca juga: Lebih dekat dengan budaya Betawi lewat “Betawi Hari Ini”
Baca juga: Festival kuliner Betawi digelar di Jaksel

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Teatrikal Tari Rajah Air Mata

Sejumlah seniman tari dan teater dari alumnus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) menampilkan teatrikal tari bertema Rajah Air Mata (Te Tearmark) dalam gladi bersih di Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Selasa (9/10/2018) malam. Seni teatrikal tari dengan sutradara Bambang N Karim tersebut membawa pesan moral dari sebuah cerita pernikahan. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

Pameran Art Bali 2018

Pengunjung mengamati karya seni rupa yang dipamerkan pada Art Bali 2018 di Bali Collection di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). Pameran yang mengangkat tema ‘Beyond the Myths’ tersebut menampilkan karya seni rupa kotemporer dari sejumlah seniman nusantara. ANTARA FOTO/ICom/Am IMF-WBG/Zabur Karuru/foc.

Kisah tenun Watubo di Paviliun Indonesia

Nusa Dua (ANTARA News) – Pameran Pavilion Indonesia di area Hotel Westin, Nusa Dua menyuguhkan sejumlah karya seni dan kerajinan khas Indonesia yang menarik minat para delegasi Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia (World Bank) 2018 Bali. 

Salah satu kerajinan yang dipertunjukan pembuatannya adalah tenun ikat dari Desa Watublapi, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) milik Kelompok Tenun Watubo. 

Yang istimewa dari tenun ini adalah karena penggunaan bahan pewarna alami untuk memproduksi kain-kain tenun seperti kulit mangga untuk pewarna kuning, daun nila untuk pewarna indigo serta akar mengkudu untuk pewarna merah.

“Memang proses pewarnaan alami ini lebih lama tapi lebih disukai karena lebih sehat dibanding pewarna kimia,” kata Rosvita, pendiri kelompok tenun Watubo yang terbentuk tahun 2015 di sela-sela kegiatannya menenun di Paviliun Indonesia di Bali, Selasa.

Tenun Watubo memiliki kisah yang lebih dari sekedar selembar kain.

“Kain tenun adalah perjalanan hidup kami sejak bayi dilahirkan hingga mati. Ada sekitar 20 hingga 30 motif tradisional yang mengkisahkan perjalanan kehidupan,tapi yang paling diminati adalah motif Tibu yang merupakan simbol kesuburan perempuan,” katanya.

Ketika para ibu menginjak usia 50 tahun, anak perempuan mereka menghadiahinya dengan kain yang ditenunya.

Rosvita mengatakan kelompoknya mendapat dukungan dari Bank Mandiri dengan diikutsertakan dalam berbagai pameran yang berpotensi mendatangkan pasar baru bagi kelompoknya.

“Kemarin Bank Mandiri mendatangkan Mario Lawalata untuk memberi pengembangan soal fashion kekinian, bagaimana cara membuat benang tenun jadi lebih halus,” kata Rosvita.

Tantangan bagi para perajin tenun Watubo kata Rosvita adalah bagaimana mendapatkan pasar baru tanpa meninggalkan tradisi. 

“Oleh sebab itu, dukungan dari berbagai pihak seperti ini sangat kami butuhkan,” katanya.

Harga kain tenun watubo dibanderol mulai dari Rp4 juta hingga Rp250 juta tergantung ukuran serta motif, semakin rumit motif dan semakin lebar ukuran kain maka akan semakin tinggi harganya.

Tips menyimpan 

Menyimpan kain tenun yang diwarnai dari bahan alami seperti kain tenun Watubo memerlukan teknik tersendiri.

Salah satunya adalah jangan mencuci kain tenun dengan deterjen karena terlalu keras dan dapat merapuhkan benang.

“Sehabis dicuci, angin-anginkan tapi jangan kena matahari langsung. Simpan di tempat yang kering dan tidak lembab. Tapi setiap sebulan sekali harus dikeluarkan dan paparkan pada cahaya karena pewarna dari bahan alami membutuhkan cahaya untuk hidup,” katanya.

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Terang Untukmu

Pengunjung melihat lukisan berjudul “Look At Me” karya seniman Strudi yang dipajang dalam pameran bertajuk Terang Untukmu di Gedung Dewan Kesenian Malang, Jawa Timur, Senin (8/10/2018). Pameran yang berlangsung selama 7 hari tersebut menampilkan 25 karya lukisan bertema kritik sosial sekaligus seruan agar masyarakat tetap menjaga perdamaian meski mempunyai pendapat yang berbeda. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww.

“Kicir-kicir” tandai dimulainya “ASEAN Youth Camp”

Beijing (ANTARA News) – Lagu tradisional “Kicir-kicir” yang dibawakan mahasiswa dan dosen London School of Public Relations (LSPR) Jakarta menandai dimulainya “ASEAN Youth Camp to China” di Beijing, Senin.

Emilya Setyaningtyas, dosen LSPR didampingi anak didiknya, Bella Ayu Prasetyo, membawakan lagu daerah Jakarta itu sambil menari di depan para pejabat Kementerian Luar Negeri China dan Sekretariat Jenderal ASEAN.

Penampilan keduanya yang saat itu mengenakan kebaya khas Betawi memukau para tamu yang memadati ruang pertemuan di salah satu hotel berbintang di Beijing.

“Ini pertama kali saya datang ke China. Bangga sudah pasti ya, karena selain menjadi delegasi Indonesia di ajang ini juga mendapatkan kesempatan membawakan seni budaya Nusantara di depan delegasi dari berbagai negara, termasuk pejabat di China,” kata Emil mengenai kegiatan yang berlangsung di  di Beijing dan Chengdu pada 8-13 Oktober 2018 itu.

Di Beijing, para delegasi dari 10 negara anggota ASEAN yang merupakan mahasiswa dan dosen ilmu komunikasi dan jurnalistik itu akan mengunjungi Peking University, Museum Rakyat China, dan Tembok Besar.

Mereka juga mendapat kesempatan untuk menghadiri konferensi pers rutin di kantor Kementerian Luar Negeri China dan mengunjungi dapur redaksi Radio Internasional China (CRI), lembaga penyiaran publik dengan berbagai versi bahasa di dunia, termasuk Indonesia.

Pada Kamis (11/10), para delegasi tersebut terbang menuju Ibu Kota Provinsi Sichuan di Chengdu untuk mengunjungi dua perguruan tinggi dan Pusat Pengembangbiakan Panda Raksasa, sebelum pulang ke negaranya masing-masing pada Minggu (14/10).

Selama kegiatan berlangsung, panitia menggelar lomba menulis dan foto dengan tema “China in your eyes”.

Kegiatan tersebut menandai ulang tahun ke-15 Kemitraan Strategis China-ASEAN. “Pada 8 Oktober 2003, para pemimpin China dan ASEAN di Bali menandatangani Kesepekatan Bersama Kemitraan Strategis untuk Perdamaian dan Kemakmuran,” kata Wakil Ketua Asosiasi Diplomasi Publik China Hu Zhengyue.

Pria yang separuh dari masa kerjanya di Kemlu China selama 40 tahun dihabiskan dalam tugas di Asia Tenggara itu menyebutkan bahwa nilai perdagangan China-ASEAN dalam 15 tahun terakhir meningkat hampir 10 kali lipat, dari 55,2 miliar dolar AS menjadi 514,8 miliar dolar AS.

“Demikian pula dengan pertukaran antarindividu kedua belah pihak naik hampir 13 kali lipat dari 3,87 juta menjadi 49 juta orang. Mungkin sebentar lagi sudah 50 juta orang,” ujar Hu menambahkan.

Sementara itu, Deputi Sekjen ASEAN Bidang Sosial Budaya Vongthep Arthakaivalvatee menganggap kegiatan tersebut sebagai inisiatif yang sangat bagus bagi para pemuda ASEAN untuk mempelajari perkembangan informasi dan media di China.

“Kalian adalah penyokong, duta, dan garda terdepan perubahan. Dengan gagasan yang segar dan dinamis, kalian merupakan sekelompok pemuda yang mendukung perubahan besar di ASEAN. Jangan lupa, kalian memiliki kesempatan emas berdiskusi dengan teman-teman barumu dan belajar budaya satu sama lain,” ujarnya saat memberikan pesan melalui video telekonferensi dari Jakarta itu.

Vongthep juga mengingatkan kawula muda ASEAN untuk tetap berpikir kritis terhadap membanjirnya informasi agar tidak mudah mengonsumsi berita-berita palsu yang makin marak.

Baca juga: China harapkan lebih banyak mahasiswa ASEAN

Baca juga: Kampus China targetkan 1.000 mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia
 

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Foto Peradaban Maritim Indonesia di Pasar Hamburg

Pengunjung mengamati foto yang dipajang pada Pameran Foto Peradaban Maritim Indonesia karya pewarta Antara Foto pada ajang Pasar Hamburg 2018, di Hamburg Messehallen, Hamburg, Jerman, Sabtu (6/10/2018). Festival Indonesia Pasar Hamburg bekerja sama dengan Antara Foto menggelar pameran yang menampilkan 43 foto karya 25 pewarta foto Kantor Berita Antara dengan menampilkan imaji jejak sejarah kejayaan maritim Nusantara hingga visualisasi dinamika maritim terkini Indonesia. ANTARA FOTO/Tim Media Pasar Hamburg 2018-Affan Ibrahim Puspateja/aww.

Festival Fulan Fehan

Penari Antama memperagakan tarian berburu saat digelarnya Festival Fulan Fehan 2018 di bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, NTT, Sabtu (6/10/2018). Festival Fulan Fehan yang digelar untuk kedua kalinya itu menampilkan 1.500 penari dari kabupaten Belu dengan menampikan tarian-tarian kolaborasi, mulai dari tarian Likurai (penyambutan), tarian Antama (berburu), peraga busana kain tenun, serta sejumlah tarian lainnya guna mengangkat kembali kebudayaan masyarakat perbatasan. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/pras.

Perempuan Terakhir tampil di Malay Culture Festival Singapura

Padang, Sumbar (ANTARA News) – Perempuan Terakhir yang merupakan karya tari kontemporer dari grup Impessa Dance Company asal Padang, Sumatera Barat akan hadir dalam perhelatan Malay Culture Festival 2018 yang digelar di Malay Heritage Centre, Singapura.

Tarian dengan durasi 50 menit tersebut merupakan interprestasi terhadap sosok seorang ibu, dalam hal ini bagaimana seorang wanita atau ibu yang harus dijunjung tinggi, tidak hanya melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan.

“Perempuan Terakhir mulai diproduksi pada akhir 2016, sebelumnya karya ini juga pernah ditampilkan pada Kaba Festival,” kata koreografer Impessa Dance Company, Joni Andra di Padang, Sabtu.

Lahirnya karya ini menurut dia berangkat dari fenomena yang kerap terjadi pada masa sekarang, di mana keberadaan seorang ibu mulai jauh dari perhatian anak-anaknya, sementara salah satu wujud kasih sayang kepada ibu adalah melalui perhatian.

Andra menyebutkan, saat ini banyak terjadi di keluarga Indonesia ketika seorang anak sudah dewasa, mereka malah sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga secara tidak langsung sosok seorang ibu jadi terabaikan.

“Dialah perempuan terakhir yang menyatukan masalah yang ada. Dia memiliki seribu bahkan jutaan kekuataan untuk melindungi kelangsungan masa depan bumi. Berhentilah mengungkap kata sayang tanpa perbuatan. Dia lah ibu dari diri dan ibu dari bumi,” ujarnya.

Keikutsertaannya dalam dalam kegiatan bertaraf internasional ini merupakan kesempatan yang telah lama ditunggu-tunggu dan diharapkan nantinya kesempatan tersebut juga dapat dirasakan oleh seniman-seniman Sumbar lainnya.

“Ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu, mudah-mudahan hal ini akan membuka pintu kesempatan bagi seniman Sumbar yang lain,” ujarnya.

Impessa Dance Company sendiri dijadwalkan akan pentas pada tanggal 14 Oktober 2018 yang bertempat di Malay Heritage Centre.

Selain Impessa Dance Company, grup lain asal Sumbar yang juga ikut ambil bagian dalam even ini adalah Nan Jombang Dance Company yang akan membawakan tarian berjudul Diantara Sujud.

Nan Jombang Dance Company yang berada di bawah pimpinan koreograger Ery Mefri tersebut merupakan salah satu grup tari kontemporer terkemuka asal Sumbar yang berangkat dari tradisi Minangkabau.

Baca juga: Penonton di Ceko terpukau tari Saman

Baca juga: Tari Gemu Fa Mi Re massal pecahkan rekor dunia dari MURI

Baca juga: Mahasiswa ISI Denpasar pentas tari ke Jepang

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Gubernur resmikan penggunaan aksara Bali di bandara

 Kuta  (ANTARA News) – Gubernur Bali, Wayan Koster meresmikan penggunaan aksara Bali di atas Terminal Keberangkatan Domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai, yang ditandai dengan penekanan tombol sirine, Jumat malam.

 “Penggunaan aksara Bali ini juga sebagai ikon promosi pariwisata yang memiliki taksu (vibrasi spiritual) berbeda dari negara lainnya sebagai ciri khas tersendiri,” katanya saat acara peresmian tersebut, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

 Gubernur mengemukakan, peresmian pada hari ini juga dilakukan secara serentak mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, tingkat kecamatan hingga tingkat kelurahan sebagai salah satu bentuk pelaksanan pembangunan Bali dalam satu kesatuan wilayah satu pulau, satu pola dan satu tata kelola dalam kerangka pola Pembangunan Semesta Berencana.

 “Untuk itu, saya berharap seluruh krama (warga) Bali beri dukungan dan laksanakan kedua Pergub secara disiplin dan sungguh-sungguh,” ujarnya didampingi Wagub Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati dan Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra.

 Yang tidak kalah penting, generasi muda diharapkan bisa berperan aktif melaksanakannya sebagai bentuk rasa memilki dengan memajukan adat, agama, tradisi, seni dan budaya Bali.

 “Saya instruksikan Bupati/Wali Kota se-Bali serta pimpinan lembaga lainnya agar bertanggung jawab dan memastikan bahwa Instruksi Gubernur Bali telah dilaksanakan di wilayah masing-masing serta melaporkan kepada Gubernur Bali,” ujarnya.

 Rangkaian kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut diterbitkannya Pergub No 79 Tahun 2018 tentang Penggunaan Busana Adat Bali dan Pergub No 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

 Pada Pergub Bali itu, lanjut dia, telah diatur bahwa aksara Bali digunakan pada kantor lembaga pemerintahan dan kantor lembaga swasta di seluruh wilayah Bali.

 Sedangkan untuk penulisan posisi aksara Bali ditempatkan di atas huruf latin dengan ukuran secara berimbang guna menjaga keluhuran peradaban dan budaya masyarakat Bali.

 “Hal ini merupakan kebijakan program prioritas dalam bidang adat, agama, tradisi, seni dan budaya sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebagai wujud komitmen serius pada upaya pemajuan kebudayaan Bali,” kata Gubernur.

Baca juga: Fasilitas publik akan bertuliskan aksara Bali
Baca juga: Kembali, Bandara Bali raih penghargaan terbaik dunia

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Anies Baswedan ketagihan nasi lengko Cirebon

Cirebon, 6/10 (ANTARA News) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan, ketagihan makan nasi lengko, makanan khas Cirebon, Jawa Barat,  dan setiap melintas atau berkunjung ke Cirebon, dia selalu menyempatkan diri untuk menyantapnya.

“Saya dari kecil selalu makan nasi lengko di sini (Nasi Lengko H Barno), saya sekolah di Yogyakarta dan kalau mau pulang ke Kuningan selalu mampir untuk makan nasi lengko,” kata Anies di Cirebon, Jumat.

Anies mengenang saat dia kecil, di mana setiap datang dari Yogyakarta, dia selalu menyempatkan untuk menyantap makanan khas Cirebon itu sebelum melanjutkan ke Kuningan.

Menurut Anies, nasi lengko mempunyai ciri khas tersendiri dan tidak mudah untuk dilupakan, bahkan sampai saat ini dia mengaku selalu menyempatkan mampir untuk menikmatinya.

“Kalau lewat saya pasti mampir untuk menyantap nasi lengko,” ujarnya.

“Nasi lengko ini sudah pas porsinya, tidak kurang dan juga tidak kelebihan, malah kalau ditambah kekenyangan dan kalau dikurangi ya jadi kurang. Pokoknya pas,” katanya.

Selain itu, kecap nasi lengko juga berbeda dengan kecap lainnya dan tidak ada yang lain kecuali di sini di nasi lengko. “Manisnya pas, tidak ada kecap seperti ini,” tambahnya.

Nasi lengko yaitu nasi yang diatasnya diberi irisan tahu, tempe, dengan sayurnya mentimun dan tauge, lalu disiram dengan kuah kacang yang ditambah dengan kecap manis.

Baca juga: Cirebon pecahkan rekor makan nasi lengko terbanyak
Baca juga: Pemkot Cirebon gelar Festival “Sega Lengko”

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Lagu Tope Gugu dari Palu tampil di festival film Roma

London (ANTARA News) – Lagu “Tope Gugu” dari Palu dimainkan dalam pembukaan acara Festival Film Asiatica di Roma, Italia, yang berlangsung 3-10 Oktober.

Festival Asiatica adalah ajang tahunan terkemuka yang khusus menampilkan sinema berkualitas dari negara-negara Asia yang digelar di salah satu bioskop bersejarah di tengah kota Roma.

Sebanyak 30 judul film ditayangkan, termasuk film Indonesia berjudul “Marlina Si Pembunuh dalam 4 Babak” yang akan diputar pada 9 Oktober mendatang, demikian Pensosbud KBRI Roma, Aisyah M. Allamanda kepada Antara London, Jumat.

Pada acara pembukaan Festival Film Asiatica yang diadakan di We Gil Roma, tampil berbagai penampilan seni dan budaya dari sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.

Dari Indonesia, hadir Band Dwiloka asuhan KBRI Roma yang memainkan musik hasil perpaduan instrumen tradisional seperti gamelan dan angklung dengan instrumen internasional piano, saksofon dan trumpet.

Dibuka oleh “Janger” dari Bali, dilanjutkan medley nyanyian daerah nusantara lain serta nomor-nomor populer Italia, penampilan mereka ditutup dengan lagu Palu “Tope Gugu” yang secara khusus disebutkan bahwa lagu tersebut dibawakan sebagai tanda ingat dan simpati bagi saudara setanah air di Sulawesi Tengah yang saat ini tengah ditimpa musibah bencana alam gempa dan tsunami.

Penampilan sederhana namun unik dari Band Dwiloka tersebut memperoleh pujian dari pengunjung, utamanya mengingat para personelnya bukan musisi profesional melainkan pejabat dan staf KBRI Roma.

Ornamen angklung dan gamelan Bali yang dipajang pun mencuri perhatian.

Mereka yang mampir di Pojok Indonesia turut menuliskan pesan simpati bagi masyarakat Indonesia melalui kertas berwarna-warni yang ditempelkan di papan hias.

Beragam ungkapan rasa solidaritas disampaikan disertai harapan agar Indonesia dapat menangani permasalahan akibat bencana dengan sebaik mungkin.

“Saya merasa dekat dengan Indonesia. Mudah-mudahan, meski bencana alam datang silih berganti, bangsa Indonesia dapat tetap optimis dan semangat,” demikian harapan penyelenggara festival, Italo Spinelli.

Spinelli adalah sutradara kenamaan Italia yang juga pernah menyutradarai film dokumenter tentang kehidupan pesantren Indonesia, “Da`wah”.

Baca juga: Kehidupan pesantren dalam dokumenter sutradara Italia

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Jadi penggerak fesyen tidak hanya perlu uang, tapi juga kreativitas

Jakarta (ANTARA News) – Selebiriti Haykal Kamil mengatakan untuk menjadi motor penggerak fesyen Indonesia tidaknya membutuhkan uang sebagai modal, tapi diperlukan kreativitas tinggi dari penggiat usaha, serta dukungan pemerintah.

“Buat aku sekarang dengan perkembangan zaman, modal bukan hanya uang tetapi juga kreativitas. Modal itu uang dan kreativitas, lalu pemerintah sebagai regulator,” tutur adik perancang busana Zaskia Mecca itu di Jakarta, Selasa.

Tak hanya Haykal, sejumlah selebiriti seperti Chintami Atmanegara, Indra Bekti, Kiki Amelia, Delia Septianti juga ikut memberi dukungan untuk fesyen Indonesia, salah satunya melalui penyelenggaraan Celebrity Culture Festival 2018.
  Parade busana dari berbagai merek yang diusung sejumlah selebriti tanah air dalam Celebirity Culture Festival 2018 di Jakarta, Selasa (2/10/2018). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Para selebriti ini menampilkan parade busana dari merek yang mereka usung.

Tak hanya itu, acara yang resmi dibuka hari ini di Jakarta oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya itu juga menghadirkan beragam kain nusatara karya desain tanah air seperti kain tenun Bali dari Maya Sari, tenun Gorontalo Karowo dari Nunu Datay, batik Garut dari Rajib dan batik sutra dari Marta Vera Tien. 

Celebrity Culture Festival 2018 akan berlangsung hingga 7 Oktober mendatang di mal Kota Kasablanka. 

Baca juga: Kombinasi batik-hijab bisa menangkan persaingan fesyen dunia, kata Menpar

Baca juga: Menperin apresiasi peluncuran boneka Barbie Batik Kirana

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kombinasi batik-hijab bisa menangkan persaingan fesyen dunia, kata Menpar

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai kombinasi batik dan hijab karya perancang Indonesia bisa memenangkan persaingan fesyen hijab di dunia.
 
Untuk itu, ia mengajak masyarakat Indonesia agar mengenakan batik, karena selain menjadi budaya asli bangsa, batik juga salah satu produk unggulan yang berperan besar dalam ekonomi kreatif.

“Batik merupakan keunggulan bangsa Indonesia dan fesyen, menyumbang sangat besar dalam ekonomi kreatif. Gunakanlah keunggulan ini, batik, tenun dan sebagainya. Pakailah batik sebelum diambil orang lain,” ujar dia saat menghadiri acara Celebrity Culture Festival 2018 di Jakarta, Selasa.

“Kalau modelnya, yang saya yakin bisa bersaing adalah hijab. Indonesia bisa menjadi mode fesyen hijab terbaik di dunia. Kombinasikan hijab ini dengan batik, tenun dan semuanya yang asli Indonesia,” kata dia.

Arief menilai para selebiriti tanah air punya potensi besar membantu memenangkan persaingan ini, kemudian Kementrian Pariwisata berjanji akan mendukung selebiriti dalam hal ini.

Dia juga berharap Indonesia menjadi surga belanja wanita di seluruh dunia, kendati hal itu masih terhalang tax refund. Kementerian Keuangan dalam waktu dekat akan membicarakan masalah ini bersama para pengusaha.

“Kemenkeu mengundang teman-teman pengusaha membicarakan tax refund agar lebih mudah dan lebih banyak toko menyelenggarakan tax refund. Saya yakin kalau semua toko menyelenggarakan tax refund, Indonesia akan menjadi surga belanja wanita di seluruh dunia,” kara Arief.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Peluang Museum Pasifika Bali jadi pusat seni dunia

Satu lagi penghargaan diterima oleh Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali, yang menyimpan 600 koleksi seni dan budaya dari negara-negara Asia Pasifik.

Penghargaan itu diterima dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Perancis berupa certificate of appreciation (CoA) yang diberikan kepada salah seorang pendiri Museum Pasifika, Philippe Augier pada 24 September 2018.

Perancis menilai kiprah Philippe Augier selama ini turut meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dengan Perancis, khususnya di bidang seni budaya dan ekonomi.

“CoA” itu diberikan oleh Duta Besar RI untuk Perancis, Monaco, dan Andora, yakni Dr Hotmangaradja Pandjaitan.

Penghargaan ini baru pertama kali diberikan oleh KBRI di Paris, dan memang secara khusus diberikan kepada warga negara yang dinilai memiliki kontribusi besar untuk membangun hubungan baik antarnegara, khususnya di bidang seni budaya dan ekonomi.

Sebagai salah seorang pendiri Museum Pasifika, Philippe Augier menyatakan rasa terima kasih atas penghargaan yang telah diterima dari KBRI Perancis. Ia menyatakan tidak menyangka akan menerima penghargaan ini.

“Untuk bidang ekonomi dan budaya, saya memang sudah terlibat berpuluh tahun lalu, terutama setelah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Perancis-Indonesia. Sudah tidak terhitung jumlah investor dari Perancis yang diperkenalkan potensi investasi di Indonesia,” ujarnya.

Bertaraf Internasional

Dalam bidang budaya, peran Philippe tidak bisa dibilang sepele. Sejak tahun 2006, pria berkebangsaan Perancis yang bermukim di Indonesia ini telah mendirikan Museum Pasifik, yang dibangun bersama Popo Danes (seniman Bali) serta Moektaryanto (pengusaha dari Yogyakarta).

Museum ini disebut sebagai `The Largest Asia Pacific Art Museum` karena 600 lebih koleksinya yang terdiri atas lukisan dan patung seni dari berbagai wilayah di Asia Pasifik, terbilang memiliki kualitas terbaik, sehingga menjadi tujuan wisata  budaya yang bertaraf internasional.

Dengan lebih dari 600 karya seni yang dipamerkan secara permanen, Museum Pasifika mengusung koleksi yang unik perpaduan beragam genre seni yang terdiri dari Master Indonesia mulai dari Raden Saleh hingga ke Lempad, dari Affandi dan Hendra Gunawan hingga ke Kobot, yang seluruh koleksinya berasal dari 50 artis Indonesia.

Misi Museum Pasifika adalah untuk menciptakan pusat seni internasional, menawarkan program pendidikan seni kepada anak-anak dan siswa sekolah Indonesia dan Bali, serta untuk mengusulkan objek wisata “kelas atas” di kompleks BTDC.

Museum Pasifika menawarkan tema berdasarkan karya seniman Asia Pasifik, dan telah menciptakan sekolah seni formal atau informal yang dalam proses belajar berpadu dengan seniman daerah.

Guna mendukung edukasi pada generasi muda, maka sudah lebih dari 30.000 anak sekolah dan siswa memilih untuk mengunjungi Museum Pasifika. Sebagian besar digratiskan, atau dengan biaya simbolis.

“Kalau untuk museum, saya tidak membicarakan berapa biaya yang diperlukan untuk membangun atau biaya perawatan setiap bulan. Ini berbicara soal kecintaan dan pelestarian pada seni budaya. Bagaimana agar budaya di dunia ini tidak hilang begitu saja. Ini tidak bisa dinilai dengan sekadar uang,” katanya.

Apalagi, di Bali ada Kabupaten Gianyar yang menjadi daerah kedua di Indonesia setelah Yogyakarta, yang telah diusulkan menjadi anggota kota kerajinan dunia atau WCC (World Craft City), mengingat segala bentuk seni dan kerajinan hidup dan berkembang di Gianyar, apalagi Gianyar banyak didukung oleh seniman-seniman muda yang kreatif dan inovatif.

Potensi Gianyar itu akan bersinergi dengan Museum Pasifika sebagai pusat seni dunia yang juga telah banyak menerima penghargaan dari tingkat nasional hingga dunia, di antaranya penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk keterlibatan dan prestasi di industri pariwisata Indonesia sejak pembukaan Museum pada 2006.

Penghargaan ini disampaikan oleh Menteri Pariwisata Mari Elka Pangestu di hadapan Wakil Menteri Sapta Nirwandar di Jakarta pada 29 Desember 2011.

Dalam skala dunia, sejak tahun 2013 sampai 2015, Museum Pasifika berturut-turut mendapat penghargaan predikat sebagai Traveller`s Choice peringkat pertama dari tripadvisor.co.id, sebuah situs web wisata terbesar di dunia.

Menurut pria yang fasih berbahasa Indonesia itu, Museum Pasifika pun telah dapat peringkat keempat dari 52 objek wisata di Nusa Dua, serta masuk peringkat ke-30 dari 500 objek wisata di Bali.

Sudah ada tujuh kepala negara, 300 menteri dan lebih dari 80 duta besar dari berbagai negara yang telah datang ke Museum Pasifika.

Karena wisatawan jika berkunjung ke Bali, tentu yang dicari adalah seni dan budaya.

Nah, Museum Pasifika terletak persis di “jantung” Nusa Dua, sehingga menjadi tempat yang representatif bagi siapa saja yang ingin menyelami dan mempelajari seni budaya dari wilayah Asia Pasifik.

Apalagi sudah tidak terhitung tokoh dunia yang datang, maka kualitas karya bertaraf internasional dari Museum Pasifika bukan sekadar wacana.

Baca juga: Ada koleksi surat Soekarno di Museum Pasifika Badung Bali
Baca juga: Seni dan Budaya Asia Afrika Tampil di Bali

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Peringati Hari Batik, Cirebon gelar festival topeng

Cirebon (ANTARA News) – Pengusaha batik Cirebon, Jawa Barat, menggelar festival topeng untuk memperingati Hari Batik Nasional dan membuat masyarakat kembali antusias terhadap batik.

“Pada peringatan Hari Batik Nasional, kita menggelar berbagai macam perlombaan dan juga festival topeng,” kata Pengusaha Batik Trusmi Cirebon, Ibnu Riyanto di Cirebon, Senin.

Ibnu mengatakan festival topeng ini juga salah satu upayanya melestarikan seni asal Cirebon dan selain itu juga mengkombinasikan kedua ciri khas Cirebon.

Ia juga berharap dengan menggelar festival itu nantinya masyarakat lebih tertarik untuk berwisata ke Cirebon.

“Kita mengkombinasikan antara batik dan topeng dan tujuannya juga untuk mengingatkan masyarakat mengenai Hari Batik Nasional,” ujarnya.

Dia mengatakan saat ini usaha batik sedang menurun, karena masyarakat sudah kembali lagi kurang tertarik terhadap batik.

Terbukti dengan banyaknya gerai batik yang berada di selain daerah Cirebon, menurun drastis pengunjungnya. Kondisi itu sangat berbeda apabila dibandingkan pada periode 2008-2011, ketika batik baru ditetapkan sebagai warisan Indonesia.

“Setelah ada klaim dari Malaysia, usaha batik sangat maju pesat yaitu di tahun 2008-2011, namun saat ini agak lesu,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Ibnu, ia ingin menggelorakan kembali rasa cinta masyarakat terhadap batik, salah satunya melalui festival itu.

Sementara itu Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa sangat mengapresiasi diselenggarakannya festival topeng untuk memperingati Hari Batik Nasional.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar kembali mencintai batik dengan cara membeli batik dan memakainya, agar semua komponen bisa merasakan manfaat batik.

“Mari kita beli batik dan dengan membeli batik kita mencintai dan memberikan daya beli masyarakat,” katanya.

Untuk ASN Jabar, lanjut Iwa, saat ini sudah diwajibkan mengenakan batik selama dua hari kerja, ini salah satu bukti kongkrit Pemprov membantu para pengusaha dan perajin batik.

“Kita mewajibkan ke pegawainya menggunakan batik yaitu Kamis dan Jumat, ini bukti kongkrit Pemprov Jabar,” katanya.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Berwisata sejarah ke Pendopo Kota Bandung

Bandung (ANTARA News) – Pendopo Kota Bandung yang terletak di depan Alun-alun Bandung, menjadi saksi perkembangan Kota Kembang dari masa ke masa.

Ketertarikan warga Bandung maupun orang yang datang dari luar kota untuk melakukan Wisata Sejarah di Pendopo Kota Bandung tiap tahun semakin meningkat.

Pengelola Pendopo Kota Bandung, Agam, Minggu, menjelaskan tiap tahunnya selalu ada perbaikan di dalam Pendopo.

Beberapa minggu lalu, dibuat taman khusus untuk barbeque bagi keluarga wali Kota yang lokasinya dekat dengan rumah kaca di Pendopo.

Sementara sekarang, tengah dibangun mushala untuk memudahkan pengunjung dan pegawai Pendopo yang ingin beribadah.

“Ini lagi buat mushola untuk kenyamanan pengunjung. Agar memudahkan pengunjung yang ingin beribadah,” kata Agam selaku pengelola saat ditemui di Pendopo.

Pengunjung yang datang ke Pendopo hanya boleh melihat-lihat bagian depan saja. Sebab bagian belakang Pendopo sudah termasuk area pribadi Wali Kota Bandung. Pendopo memang rumah dinas bagi Wali Kota Bandung.

Peninggalan sejarah yang masih bisa dilihat di Pendopo adalah Lonceng VOC. Agam menjelaskan bahwa pada zaman dahulu lonceng tersebut digunakan untuk kegiatan upacara.

Selain dibuka untuk umum kini Pendopo bisa dipakai untuk acara-acara tertentu. Jika ingin mengajukan permohonan izin, bisa ditujukan pada bagian umum Kota Bandung.

“Menurut saya bagus sekali wisata sejarah di Pendopo ini. Selain kita jadi tahu bagian dalam Pendopo kayak gimana, suasananya juga sejuk untuk jalan-jalan,” kata Aldo, salah satu pengunjung.

Baca juga: Ridwan Kamil segera tinggalkan rumah dinas, Pendopo Kota Bandung

Baca juga: Ridwan Kamil izinkan Raffi “ngunduh mantu” di pendopo wali kota
 

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kirab Kelenteng di Bojonegoro masuk MURI

Bojonegoro (ANTARA News) – Kirab ritual dan budaya hari kebesaran YM. Kongco Hok Tik Tjing Sien yang diikuti 148 peserta dari berbagai kelenteng di Tanah Air, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tercatat masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

“Eksekutif Manager” MURI Sri Widayati, di Bojonegoro, Minggu, menjelaskan kirab ritual dan budaya tercatat dalam MURI dengan jumlah peserta terbanyak.

Sesuai catatan kirab ritual dan budaya yang digelar Kelenteng Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Swie Bio Bojonegoro diikuti 146 peserta kelenteng dari berbagai daerah di Tanah Air. Dalam kirab itu tercatat sebanyak 144 Kiem Sien/rupang/dewa-dewi, dan jumlah Kio/Joli dewa-dewi sebanyak 85.

“Kirab ritual dan budaya di Bojonegoro masuk catatan Muri bukan mengalahkan, karena sebelumnya belum pernah ada kirab serupa yang masuk catatan MURI,” kata dia menjelaskan.

Ditanya mengenai jumlah orang yang terlibat dalam kirab ritual dan budaya, ia mengatakan tidak masuk dalam catatan MURI.

“Jumlah orang yang terlibat tidak kami catat dalam MURI,” ucapnya.

Seorang pengurus Kelenteng TITD Hok Swie Bio menambahkan peserta yang mengikuti kirab ritual dan budaya datang dari berbagai daerah di Tanah Air.

Selain lokal Bojonegoro, dan Tuban, dan berbagai daerah di Jawa, juga dari luar Jawa, antara lain, Palembang, samarinda, Lampung, dan Denpasar.

“Kelenteng Singkawang Kalimantan Barat tidak ada yang ikut,” ucap seorang pengurus TITD Hok Swie Bio menambahkan.

Dalam kirab ritual dan budaya itu, juga dimeriahkan atraksi Barongsai dari Arhanud 15 Semarang yang berdemontrasi sebelum acara kirab. Barongsai Arhanud 15 dengan jumlah 30 personel, juga mengikuti kirab menyusuri jalan protokol di daerah setempat.

Ribuan warga menyaksikan jalannya kirab ritual dan budaya yang digelar Kelenteng TITD Hok Swie Bio. “TITD Hok Swie Bio pernah menggelar kirab ritual dan budaya serupa enam tahun lalu. Tapi pesertanya tidak sebanyak tahun ini,” ucap pengurus itu.

Kabag Ops Polres Bojonegoro Kompol Teguh Santoso menambahkan pengamanan kirab ritual dan budaya melibatkan sekitar 300 personel jajaran kepolisian resor. Selain itu, pengamanan juga melibatkan personel Kodim 0813, Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub) dan Banser.

“Jumlah 300 personel itu hanya polres, belum termasuk personel Kodim 0813, juga personel lainnya,” ucapnya menambahkan.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Teater Dionysus

Penari mementaskan teater Dionysus di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (29/9/2018). Pementasan teater Dionysus yang merupakan kolaborasi antara penari Indonesia dan Jepang dengan sutradara Suzuki Tadashi itu berlangsung pada 29-30 September 2018. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.

Pesona Nusa Dua Fiesta Bali

Sejumlah seniman menampilkan tari kolosal saat pembukaan Pesona Nusa Dua Fiesta 2018 di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (28/9/2018). Kegiatan yang menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya, kuliner dan musik tersebut untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Nusa Dua sekaligus untuk menyambut Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.

Pemkot Gunungsitoli pugar situs sejarah Tugu Meriam

 Gunungsitoli, Sumut (ANTARA News) – Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pemerintah Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara memugar situs sejarah Tugu Meriam yang ada di Kelurahan Ilir, Kota Gunungsitoli.

 Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pemkot Gunungsitoli, Ampelius Nazara di Gunungsitoli, Sumut, Jumat, mengatakan, pemugaran itu salah satu tujuannya agar situs bersejarah tersebut menjadi lebih menarik untuk dikunjungi.

 “Situs sejarah Tugu Meriam dipugar agar lebih tinggi. Selain itu situs itu juga dipasangi keramik supaya lebih menarik, agar  membuat animo masyarakat meningkat untuk datang menyaksikannya,” tambahnya.

 Sementara itu Direktur Museum Pusaka Nias, Nataalui Duha menyebutkan bahwa yang memiliki nilai sejarah dari tugu tersebut adalah meriamnya. 

 Meriam yang ada di Kota Gunungsitoli khususnya di Kelurahan Ilir dan Desa Mudik sudah menjadi cagar budaya yang dilindungi Undang-undang. 

“Kalau bangunannya dihancurkan dan dibuat ulang tidak masalah, tetapi jika meriamnya dimusnahkan atau dirusak bisa jadi masalah,” katanya.

 Meriam yang ada di Kelurahan Ilir merupakan meriam simbol basis Minang yang masuk di Nias tahun 1690, sedangkan yang ada di Desa Mudik simbol basis Aceh atau Polem yang masuk di Nias sebelum basis Minang masuk tahun 1652.

 Tokoh masyarakat Kelurahan Ilir, Mazdan Almadali memberikan apresiasi atas perhatian Pemkot Gunungsitoli terhadap situs sejarah tugu meriam.

 Dia berharap sebelum bangunan tugu dihancurkan, Pemkot Gunungsitoli terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada warga sekitar.

  “Kalau dipugar, kita sangat dukung dan berterima kasih, tetapi karena bangunan lama dihancurkan, kita harap dilakukan sosialisasi dulu,” katanya.

Baca juga: Museum Pusaka Nias gabungkan situs sejarah dan alam
Baca juga: Tempat mandi para raja di Balige terlantar

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Pesta Ulat Sagu Kombay pertama di Papua

Merauke, Papua (Antara News) – Masyarakat Hukum Adat Kombay yang memiliki wilayah tersebar di Kabupaten Boven Digoel dan Mappi menggelar Festival Pesta Ulat Sagu yang baru pertama kali dilaksanakan di tanah Papua pada 26-27 September 2018.

“Pesta ulat sagu sesungguhnya merupakan ritual adat rutin yang dilakukan Masyarakat Hukum Adat Kombay. Namun kali ini mereka menggelar ini dalam skala festival yang melibatkan banyak masyarakat adat dari berbagai kampung atau marga,” kata Direktur Perkumpulan Silva Papua Lestari (PSPL) Kristian Ari di Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua, Selasa (25/9).

Kristian mengatakan pesta ulat sagu atau biasa disebut Yame bagi Masyarakat Hukum Adat Kombay merupakan sebuah ritual yang memiliki pesan moral kerja sama dan solidaritas persaudaraan yang tinggi karena melibatkan banyak orang.

Ritual proses keseluruhannya bisa mencapai dua bulan ini digelar sekaligus sebagai rasa syukur kepada Tuhan, leluhur, alam semesta dan sesama orang Kombay.

Sedangkan, menurut Tuan pesta Festival Pesta Ulat Sagu Yambumo Kwanimba, ditemui di lokasi pesta yang terletak di Dusun Weyunggeo, Kampung Uni, Distrik Bomakia, Merauke, Papua, Kamis (27/9), mengatakan tujuan festival ini untuk melindungi hutan mereka yang menjadi tempat pohon-pohon sagu mereka tumbuh dari masuknya perusahaan-perusahaan ke wilayah masyarakat adat mereka.

“Supaya hutan kami tidak hancur, karena hutan kami termasuk kecil. Harapannya festival ini berlanjut tahun berikutnya, karenanya hutannya tetap harus ada, supaya tanaman sagu tetap ada,” kata Yambumo.

Pesta Ulat Sagu, menurut dia, pada awalnya sebenarnya sebuah ritual tidak hanya untuk melindungi hutan, tetapi juga menjaga perdamaian. Berbagai kelompok marga diundang untuk hadir, dan mereka akan damai ketika bersama-sama sudah berada di dalam Bivak yang dibangun khusus untuk pesta ulat sagu. 

Baca juga: Papua berpotensi miliki Hutan Adat terluas di Indonesia

Bupati Boven Digoel yang juga hadir dalam Festival Pesta Ulat Sagu mengatakan pesta ulat sagu biasanya oleh tuan pesta dilaksanakan di atas tanahnya dan mengundang saudara-saudaranya dari kampung lain untuk bersyukur atas berkat, rahmat yang Tuhan berikan pada mereka.

“Ini bentuk kearifan lokal,” ujar dia.

Tuan pesta, lanjutnya, juga biasanya akan meminta dukungan untuk menghadapi berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakatnya. Dan 29 aspirasi yang disampaikan pada awal dibukanya Festival Pesta Ulat Sagu bagian inti dari pesta ini, meminta semua untuk bisa menyelesaikan  persoalan yang sedang mereka hadapi.

Festival Pesta Ulat Sagu yang pertama kali digelar di tanah Papua ini juga diisi dengan tari-tarian oleh Masyarakat Adat Kombay dan para tamu dari kampung yang diundang. Ada pula pasar tradisional dan galeri peralatan tradisional Masyarakat Hukum Adat Kombay.

Selain dihadiri tamu-tamu dari marga yang lain, Masyarakat Adat Kombay yang menggelar festival ini bersama dengan Perkumpulan Silva Papua Lestari (PSPL) juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), perwakilan Gubernur Papua, DPRD Boven Digoel, beberapa media massa dan Rainforest Foundation Norway (RFN).

Baca juga: BBKSDA Papua agendakan Festival Cycloop November

Baca juga: Kemendes gelar Festival Perdamaian di Papua

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Rujak dan gorengan di meja diplomatik

Asal-usul rujak sampai saat ini masih simpang-siur. Ada yang bilang dari Arab karena konon penemu makanan yang tersaji dari berbagai jenis buah dan sayur itu bernama Abdul Rozak.

Namun tidak ada fakta sejarah dari negara mana makanan tersebut berasal karena tidak hanya di Indonesia, di Malaysia dan Singapura pun makanan tradisional yang disebut “rojak” itu juga ada.

Berbeda dengan salad yang juga sama-sama terdiri dari irisan buah-buahan dan sayur yang tercatat dalam berbagai literatur sejarah sebagai hidangan para bangsawan pada sekitar 1903.

Irisan buah-buahan dan sayur-sayuran yang dipadu bumbu ulegan saus tiram atau kerang yang disebut dengan petis, gula merah, terasi atau belacan, garam, dan kacang lazim disebut rujak.

Masyarakat Surabaya mencampurinya dengan irisan moncong sapi yang direbus atau cingur untuk menambah kelezatan rujak sekaligus menjadi ikon kuliner Kota Pahlawan itu.

Rujak tidak mengenal mayones yang terbuat dari kuning telur, garam, merica, cuka, dan minyak untuk membedakannya dengan salad yang populer di Eropa.

Tidak salah kalau sebagian masyarakat Surabaya menyebut salad dengan “rujak prancis” karena sama-sama berbahan dasar buah dan sayur, hanya bumbu yang membedakannya.

Meskipun tidak sama persis dengan umumnya di Indonesia, rujak yang disajikan kepada para tamu Resepsi Diplomatik Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Beijing, Rabu (26/09/2018) cukuplah untuk mewakili kekhasan kuliner Nusantara.

Hal itu perlu dimaklumi karena di Ibu Kota China tidak ada petis dan terasi sebagai elemen penentu rasa rujak.

Namun apa pun bentuknya, derajat rujak pada malam itu langsung naik. Jika biasanya di Indonesia dijual di warung-warung kecil pinggir jalan, di Beijing tiba-tiba naik ke meja diplomatik.

Mungkin di Jawa rujak bisa menjadi penawar rasa lapar, tapi bisa saja di Beijing rujak menjadi alat tawar diplomasi karena pada malam itu tiba-tiba rujak menyita perhatian Wakil Menteri Luar Negeri China Kong Xuanyou di sela perberbincangnya dengan Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun.

Rujak dan gorengan yang disajikan Sih Elsiwi Oratmangun yang mendampingi sang suami, Djauhari Oratmangun, tandas di piring Wamenlu China.

Memang lidah tak bertulang, tapi urusan selera, lidah tidak akan bohong. Sang wakil menteri mengambilnya lagi dari piring besar ke piring yang lebih kecil di tangannya sambil berbisik kepada asisten perempuannya untuk mencicipi makanan khas Nusantara itu.

Diplomasi Kuliner   

Sebagian besar dari ratusan hadirin di acara yang digelar KBRI Beijing di Hotel Four Seasons itu adalah para diplomat dan atase dari negara-negara sahabat.

Hidangan yang tersajikan pun hampir seluruhnya jajanan khas Nusantara. “Cocok kanggo ilat ndeso (Jawa: sesuai dengan lidah orang kampung),” komentar seorang istri staf KBRI Beijing saat mengambil makanan pencuci mulut yang terbuat dari tepung sagu dicampur santan dan gula merah di meja saji.

Selain rujak, nasi goreng turut menjadi primadona karena pada malam itu mampu memenuhi piring di tangan para diplomat dari benua Eropa dan Amerika.

Formasi “standing party” sangat pas untuk para diplomat. Mereka berkerumun di meja-meja kecil bukan lagi membahas hubungan multilateral di tengah kecamuk perang dagang AS-China.

Bagi mereka malam itu lebih asik membicarakan tentang santap malam dengan menu khas dari negara banyak pulau dan kaya budaya di Asia Tenggara itu.

Apalagi sebelum tudung makanan di buka untuk umum, lidah mereka sudah dibuat tergiur oleh nasi kuning berbentuk gunungan beralaskan daun pisang lengkap dengan lauk dan sayuran.

Para tamu undangan pun hanya bisa bertepuk tangan karena yang berhak mencicipi tumpeng di atas panggung itu adalah Wamenlu Kong Xianyou dan beberapa duta besar dari negara anggota ASEAN.

Dalam kesempatan tersebut, Wamenlu dan para dubes negara sahabat disuguhi tari Saman. Tepuk tangan berderai, manakala para penari yang merupakan pelajar asal Indonesia secepat kilat berubah formasi.

Apalagi ketika mereka menari sambil mengikatkan tali satu sama lain sehingga membentuk pola satu kesatuan dalam jalinan tali tadi.  

“Tidak ada satu pun negara yang dapat mewujudkan potensinya seorang diri. Kerja sama, kolaborasi, dan kemitraan, merupakan jalur terbaik bagi sebuah negara untuk berkembang,” pesan Dubes Djauhari saat menyambut para koleganya yang hadir pada acara peringatan HUT ke-73 Republik Indonesia itu. ***4***(T.M038)

Baca juga: Dubes Djauhari ajak media China nikmati kuliner Nusantara
Baca juga: Hidangan Indonesia tersaji di ASEAN-China Gourmet Festival

 

Pewarta:
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kemampuan berbahasa daerah jadi penilaian utama Anugerah Sastera Rancage

Jakarta (ANTARA News) – Kemampuan berbahasa daerah dari para penulis buku menjadi penilaian  utama dalam Anugerah Sastera Rancagé 2018 selain  kriteria penilaian sastra secara umum seperti ide dan alur cerita.

Wakil Sekretaris Rancagé, Dadan Sutisna di Jakarta, Rabu, mengatakan seperti Anugerah Sastera Rancagé sebelumnya, penilaian untuk anugerah tahun ini  dilakukan untuk karya-karya yang sudah terbit selama satu tahun terakhir. 

“Prosesnya, para penulis mengumpulkan karya mereka untuk kemudian dinilai oleh juri yang berasal dari daerah bahasa-bahasa ibu itu berada,” kata Dadan.

Untuk sastra Sunda, penilaian dilakukan oleh Teddi Muhtadin dan Hawe Setiawan, sastra Jawa oleh Sriwidati Pradopo, dan Darma Putra yang menilai sastra Bali. Sementara untuk sastra Lampung dinilai oleh Kahfie Nazarudin, sastra Batak oleh Parakitri T Simbolon, dan sastra Banjar dinilai oleh Jamal T Suryanata.

“Rancage memang bekerja sama dengan tokoh di daerah tersebut yang paham akan kebudayaan, sastra, sebagai juri. Idealnya setiap kategori memang dinilai oleh tiga orang juri, tapi berhubung ada keterbatasan dalam beberapa hal kali ini masih satu juri, tapi ke depan lebih objektif dengan tiga juri,” kata Dadan.

Adapun di tahun 2017, Rancagé menerima sekitar 50 judul sastra berbahasa enam daerah tadi.

Menurut dia, tren karya sastra berbahasa daerah memang naik turun walaupun kebanyakan Sunda dan Jawa. 

“Kami juga mensyaratkan karya sastra bahasa daerah bisa dinilai jika dalam tiga tahun berturut-turut ada karya yang menggunakan bahasa daerah itu. Sementara ke depan, kami berencana mensyaratkan karya yang dikirim punya ISBN,” kata dia.

Syarat itu diberlakukan karena tak jarang karya yang masuk adalah karya-karya mandiri atau indie yang dicetak secara terbatas. 

“Kami bukan berarti anti-buku indie ya, tapi syarat ini diwacanakan agar karya yang masuk sudah terdaftar di ISBN,” kata dia.

Melalui Anugerah Sastera Rancagé, pihaknya pun berharap agar perkembangan sastra berbahasa ibu bisa lebih semarak. 

Pihaknya memang tak menargetkan hal yang muluk-muluk, tetapi setidaknya lewat konsistensi Rancagé yang sudah lebih dari seperempat abad bisa membuat sastra berbahasa ibu tetap hidup.

”Minimalnya  sastra daerah hidup, regenerasi penulis ada, tiap tahun ada buku yang dirilis. Ada sastra daerah yang tumbuh kembali. Dan memang setelah Rancagé ini kelihatan bertambah gairah menulis dengan bahasa ibu,” ucapnya seraya menuturkan bahasa daerah lain yang potensial diikutsertakan pada Rancagé sebelumnya adalah bahasa Madura.

“Sudah satu buku, mungkin ke depan akan terus terbit lagi.”

Baca juga: Enam sastrawan terima Anugerah Sastra Rancage
Baca juga: Anugerah Sastera Rancage dipindah ke Jakarta agar lebih berkembang

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Anugerah Sastera Rancage dipindah ke Jakarta agar lebih berkembang

Jakarta (ANTARA News) – Anugerah Sastera Rancagé yang biasanya digelar di Bandung, Jawa Barat,  untuk pertama kalinya digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta bersama Dewan Kesenian Jakarta, agar  dapat lebih berkembang.

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Adinda Luthvianti yang ditemui di sela-sela acara di Jakarta, Rabu menyebut penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancagé di Jakarta sebagai  konsistensi Yayasan Rancagé dalam memberi penghargaan dan ikut melestarikan bahasa daerah.

“Ini momentum yang tepat agar Rancagé lebih nasional bahkan internasional,” kata Dinda.

Anugerah Sastra Rancage adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah.

Anugerah ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan oleh sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi.

Dinda mengatakan, lebih dari 700-an bahasa daerah di Indonesia, sebagian penuturnya sudah mulai berkurang. 

Apalagi ada wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk menyederhanakan bahasa daerah yang justru mengancam eksistensi bahasa daerah itu sendiri. 

Untuk itu upaya pelestarian bahasa daerah seperti ini perlu digalakkan, ujarnya.

“Bahasa ibu itu bisa mengurangi ketegangan hingga radikalisme karena ada petatah petitih. Penggunaannya pun sudah mendapat respons yang baik sebetulnya. Selain Rancagé, film “Marlina” yang berbahasa Sumba bisa mewakili Indonesia di festival dunia,” ujarnya.

Baca juga: Enam sastrawan terima Anugerah Sastra Rancage
Baca juga: Kemampuan berbahasa daerah jadi penilaian utama Anugerah Sastera Rancag

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

KTO targetkan jumlah pelancong mandiri ke Korea naik tahun ini

Jakarta (ANTARA News) – Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta berkolaborasi dengan agen wisata online tiket.com dalam bagian dari Korea Festival (K-Festival) 2018 untuk semakin mempromosikan potensi-potensi wisata di Negeri Ginseng. 

“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia bahwa Korea adalah destinasi wisata yang tak kalah menarik dengan negara tetangganya,” jelas Media & PR Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta Irma Maulida di konferensi pers Korea Festival 2018, Jakarta, Selasa (25/9).

Kerjasama ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan jumlah wisatawan free independent traveler alias pelancong mandiri dari Indonesia ke Korea. 

Berdasarkan data KTO Jakarta, ada 124.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan selama periode Januari-Agustus 2018.

Dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama, jumlah wisatawan Indonesia yang pergi ke Korea naik 14,4 persen.

“Target tahun ini inginnya 200.000 orang,” kata Irma.

Kolaborasi antara KTO dan tiket.com ini membuat pembeli tiket atau hotel lewat agen wisata online tersebut bisa mendapatkan potongan harga hingga Rp1 juta. Promo berlangsung mulai 24 Oktober – 4 November 2018.

Korea Festival 2018 terselenggara sepanjang Oktober mendatang.

Korea Festival 2018 berisi ragam program kebudayaan Korea yang merupakan kerjasama dari Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia, Korean Cultural Center (KCC), Korea Tourism Organization (KTO), Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation, Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Korea International Trade Association (KITA).

Baca juga: Siap-siap bertemu Highlight dan Lovelyz di K-Content Expo 2018
Baca juga: K-Festival kembali, hadirkan deretan artis hingga opera Negeri Ginseng
Baca juga: Operasi plastik alasan utama turis Indonesia pilih wisata medis ke Korsel

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Dari gaya batuan hingga super-realisme, jelmaan potret Basoeki Abdullah

Jakarta (ANTARA News) – Lukisan besar potret Sukarno tengah diarak oleh beberapa orang bertopeng sementara di sekelilingnya ada ribuan penari kecak. Di bagian bawah lukisan Sukarno tersebut ada tulisan “B. Abdullah” yang merupakan singkatan dari nama maestro lukis Indonesia Basoeki Abdullah.

Itulah “lukisan dalam lukisan” karya perupa asal Bali, I Ketut Sadia yang didominasi oleh tone warna “bumi” seperti abu-abu, coklat. Dengan menggunakan gaya batuan dari Bali dia membuat tak ada ruang yang tersisa di kanvas berukuran 67×87 cm tersebut, semua penari kecak berjubel di dalamnya.

Lukisan berjudul “Kecak Bung Karno” tersebut ditampilkan dalam pameran “Spirit Potret” di Museum Basoeki Abdullah pada 25 September hingga 25 Oktober 2018. Dalam pameran tersebut pelukis-pelukis masa kini membuat karya dengan merespons karya potret dari Basoeki Abdullah.

Tak hanya Ketut Sadia  yang membuat karya bergaya Batuan, pelukis I Wayan Diana juga melukis sosok Sukarno di dalam kereta kencana tengah mengejar istrinya Ratna Dewi. Di dalam lukisan tersebut Sukarno harus mengarungi hewan dan juga air.

I Wayan Diana mengambil inspirasi dari lukisan Basoeki berjudul “Senja Dewi”, lukisan tersebut merupakan potret diri dari Ratna Sari Dewi yang sedang menggunakan pakaian tradisional Jepang kimono.

Basoeki Abdullah lahir di Solo pada 27 Januari 1915. Dia memang sangat piawai membuat potret, saat kecil dia sudah membaut potret tokoh perdamaian dari India Mahatma Gandhi yang dilihatnya dari sebuah koran.

Lukisan tersebut kemudian diinterpretasi kembali oleh pelukis asal Bandung Niko Wiratma dalam karyanya berjudul “Ahimsa”. Di dalam kertas berukuran 55×66 cm itu, dia menggambar sosok Mahatma Ghandi menggunakan jubah putih dan tangannya mengatup seperti sedang memberi salam.

Tidak hanya pandai melukis, Basoeki juga sangat pintar bergaul, dia juga bersahabat erat dengan para pempimpin dan orang terkemuka di Indonesia dan dunia. Dia pun beberapa kali diangkat sebagai pelukis istana berbagai pemimpin negara.

Dari istana para pangeran di Belanda, Istana Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit di Thailand, Istana Ferdinand Marcos di Filipina, Istana Norodom Sihanouk di Kamboja, hingga Istana Sultan Bolkiah di Brunei Darussalam. Lukisan Queen Sirikit karya Solichin dalam pameran “Spirit Potret” di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta, Selasa (25/9). (Antara/Aubrey Fanani) Lukisan potret para bangsawan tersebut menarik perhatian pelukis asal Semarang, Solichin. Dengan gaya realisme foto, dia menggambarkan kembali potret Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit dari Thailand ke dalam bentuk yang lebih nyata.

Detail bayangan dan cahaya yang akurat membuat lukisan tersebut seperti karya fotografi saja.

Wujud super-surealisme ditunjukkan oleh pelukis asal Bekasi, Hudi Alfa dalam karyanya berjudul “Madam Theresa”. Jika dalam karya Basoeki Bunda Theresa dilukis dari samping dan tengah mendekap seorang anak kecil, Hudi memilih menggambarkan sosok Bunda Theresa yang mengepalkan tangannya saat berdoa dalam usia senjanya.

Meski memiliki prestasi yang gemilang, Basoeki juga tak luput dari polemik, dia sempat dianggap tidak nasionalis karena dia lebih banyak menggambar pemandangan dibandingkan dengan perjuangan bangsa. Di mana masa itu bangsa Indonesia sedang semangatnya menyuarakan tentang revolusi dan anti-imperialisme.

Apalagi pada 1948, ketika para pemuda sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Basoeki kebetulan ikut sayembara melukis Ratu Juliana di Belanda.

Meski dia memenangkan sayembara tersebut, namun stigma tidak nasionalis terlanjur melekat pada dirinya. Padahal sebaliknya, Basoeki juga punya rasa nasionalisme yang sama dengan yang lainnya.

Jika sikap nasionalis seorang pelukis harus ditunjukkan melalui karyanya, maka beberapa lukisan pahlawan yang dibuatnya seperti lukisan “Pangeran Diponegoro Memimpin Pertempuran” bisa mematahkan stigma tersebut.

Pangeran Diponegoro digambarkan sedang menaiki kuda hitam yang berlari kencang, keris terselip di pinggang bagian depan. Tatapannya tajam dan tangannya menunjuk dengan jelas arah tujuan seakan ingin menyerang musuh.

Lukisan tersebut cukup berbeda dengan lukisan Diponegoro yang dibuat oleh Raden Saleh (Penangkapan Diponegoro) dan karya Nicholas Pieneman (The Submission of Diponegoro).

Lukisan itu juga menjadi inspirasi bagi Robby Lulianto pelukis kelahiran Jakarta untuk melukis “Pangeran Diponegoro”. Dia meniru mimik Diponegoro yang dilukis dengan tatapan tajam.

Jika dalam lukisan Basoeki, sosok Pangeran Diponegoro hanya sendiri, dalam luksian Robby, dia menunjukkan dengan jelas siapa musuh yang sedang dihadapi oleh Diponegoro.

Di belakang Diponegoro juga terlihat siluet orang-orang yang memakai sorban sedang mengacungkan senjata, siap berperang.

Selain menggambar potret orang-orang terkenal dan juga masyarakat biasa, Basoeki juga pernah beberapa kali menggambar dirinya. Potret-potret dirinya itu menjadi inspirasi bagi pelukis masa kini dalam membuat karya.

Bahkan mereka menginterpretasikan potret diri Basoeki melampaui bayangan masyarakat biasa.

Seperti karya Lim Hui Yung atau yang dapat disapa Ayung yang melukis foto Basoeki Abdullah sedang menggunakan topi Indian. Dalam lukisan Ayung, sosok maestro berubah menjadi orang utan yang duduk di sebuah becak menggunakan topi Indian.

Ayung memang fokus menggambar satwa orang utan, dalam lukisan berjudul “Pride” tersebut, sosok Basoeki yang bertransformasi menjadi orang utan tidak hanya satu, tetapi ada tiga. Jika orang utan paling besar menggunakan topi Indian, yang dua lainnya menggunakan topi baret.

Melodia, pelukis asal Yogyakarta membuat lukisan potongan uang Rp1000 yang bergambar Kapitan Pattimura dimana gambar air uang seribu ada bayangan potret Basoeki Abdullah.

Gambar Kapitan Pattimura yang ada dalam pecahan Rp1000 tersebut memanglah gambar yang dibuat oleh Basoeki Abdullah. Melodia sengaja menyandingkan karya dan penciptanya dalam lukisan berjudul “Jejak Langkah Sang Maestro”.

Semangat dalam lukisan potret 

Pameran “Spirit Potrait” menampilkan lukisan-lukisan dari 19 seniman muda dalam menginterpretasi lukisan potret karya maestro “Basoeki Abdullah”.

Kepala Museum Basoeki Abdullah Maeva Salmah mengatakan pameran itu menyandingkan lukisan-lukisan potret Maestro Basoeki Abdullah dengan lukisan potret para perupa muda yang aktif di Indonesia, dengan perspektif mereka akan lukisan potret era sekarang.

“Perupa-perupa ini telah diseleksi oleh kurator Agus Dermawan. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTB dan Yogyakarta,” kata Maeva. Lukisan Jejak Langkah Sang Maestro karya Melodia dalam pameran “Spirit Potret” di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta, Selasa (25/9). (Antara/Aubrey Fanani) Dia mengatakan Basoeki Abdullah adalah salah satu tokoh penting dalam dunia seni rupa Indonesia, bahkan dunia. Lukisan Basoeki, terutama lukisan potretnya, menjadi rujukan dan inspirasi pelukis segenerasi atau generasi muda.

“Kemampuan luar biasa Basoeki dalam melukis potret telah membawa harum nama Indonesia dan dirinya di kancah seni rupa dunia. Apalagi pada 1948 dia mampu menjuarai lomba lukis Ratu Juliana di Belanda, mengalahkan 87 pelukis Eropa lainnya,” kata dia.

Kurator pada pameran tersebut Agus Dermawan mengatakan pameran itu telah disiapkan sejak enam bulan yang lalu.

Para pelukis yang ikut serta dalam pameran tersebut mencoba menginterpretasi kosmologi Basoeki yang dihadirkan lewat lukisan potret Basoeki Abdullah.

“Mungkin kita terkejut melihat karya-karya mereka karena bukan potret biasa tapi penafsiran mereka yang jauh sekali,” kata dia.

Dia mengatakan jajaran lukisan yang ditampilkan menyimpan berbagai aspek seperti balada, penganutan, penerusan, parodi hingga karikatur, bahkan beberapa pelukis memberikan penafsiran bernuansa pada respons budaya dan sosial.

“Keragaman cara memandang ini menunjukkan bahwa luisan potret karya Basoeki dilihat sebagai sesuatu yang hidup, sebagai karya piktorial yang tidak henti menyulu inspirasi,” kata dia.

Pewarta:
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Gorontalo catat rekor dunia sajian sate

Gorontalo  (ANTARA News) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo mencatatkan rekor dunia untuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan menyajikan sate sebanyak 88.950 tusuk di tepi Danau Limboto.

Wakil Direktur Museum Rekor Dunia Indonesia (MURi) Osmar Semesta Susilo di Gorontalo, Senin, mengatakan pemberian rekor tersebut berdasarkan hasil pengecekan di basis data dan juga sumber lainnya.

“Memang belum pernah ada rekor sate sebanyak ini dan 88.950 tusuk sate ini luar biasa untuk kuliner dan juga gizi bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya di Bali pernah ada pembuatan rekor sajian sate lilit sebanyak 60 ribu tusuk.

Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo menjelaskan, Gorontalo tidak hanya ingin memperkenalkan daerah itu di Indonesia, tetapi juga ke dunia melalui pemecahan rekor tersebut.

“Selain itu kami terus mengembangkan sapi yang menjadi salah satu bahan utama sate, serta mendorong konsumsi ikan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dengan adanya konsumsi sate daging, sate ayam, sate ikan dan lainnya dapat meningkatkan gizi masyarakat.

“Kita juga ingin mendorong wisata, salah satunya adalah kuliner dengan mengenalkan sate Gorontalo yaitu sate rica bawang,” pungkasnya.

Baca juga: Aksi bakar sate di Malang bidik rekor MURI
 Baca juga: Rekor Dunia Bakar Sate Dipecahkan di Bali

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Bandung Broadway

Seniman mementaskan drama musikal dalam rangkaian acara Bandung Broadway di Teater Majestic, Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/9/2018) malam. Drama musikal yang menceritakan sejarah Jalan Braga di Bandung tersebut guna menyemarakkan hari jadi ke 208 Kota Bandung pada (25/9/2018) mendatang. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Prosesi Tabuik Naik Pangkek

Warga Nagari Subarang memasang “bungo salapan” saat prosesi ” Tabuik Naik Pangkek”, di Pariaman, Sumatra Barat, Minggu (23/9/2018). “Tabuik Naik Pangkek” merupakan prosesi menyambungkan badan Tabuik dan pernak-perniknya, seperti sayap, ekor, buraq dan bunga salapan, menjelang dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1440 Hijriyah. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/kye

Warga Cirebon antusias dengan sekolah tari gratis

Cirebon (ANTARA News) – Warga Kota Cirebon, Jawa Barat, menyambut dengan antusias adanya sekolah tari gratis yang digagas oleh PT Pertamina Internasional EP bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan.

“Saya mendaftarkan anak agar bisa ikut sekolah tari gratis dan ini juga salah satu bentuk pengenalan dan melestarikan tari khas Cirebon,” kata orang tua murid dari Dian Kristina di Cirebon, Sabtu.

Menurut dia, adanya sekolah tari gratis sangat membantu dia mengenalkan tarian khas Cirebon kepada anaknya dan mengapresiasi apa yang dilakukan Pertamina dan Kasepuhan Cirebon.

Dia berharap setelah ditempa ilmu mengenai tari tradisional khas Cirebon, nanti anaknya bisa melestarikan dan juga bisa tampil di acara-acara yang besar.

“Mudah-mudahan anak saya bisa nari ke luar negeri,” kata Dian.

Meskipun dari pihak keluarganya tidak ada yang bisa menari, namun dia sangat berharap anaknya bisa menari dan menjaga warisan nenek moyang.

Pertamina Internasional EP (PIEP) bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan Cirebon, telah membuka sekolah gratis tari untuk semua kalangan dan usia, hal ini upaya pelestarian budaya.

Seperti dikatakan Presiden Direktur PIEP Denie S. Tampubolon bahwa dalam upayanya melestarikan budaya khas Cirebon dia bekerja sama dengan Kesultanan Kasepuhan Cirebon dan Yayasan Belantara Budaya Indonesia, menyepakati program edukasi tari kepada masyarakat selama satu tahun.

“Saya berharap program kerja sama ini mampu meningkatkan potensi kemandirian masyarakat dan memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional,” lanjutnya.

Menurut Denie, Cirebon merupakan kota sejarah yang banyak menyimpan kekayaan budaya Indonesia dan ini harus dilestarikan bersama-sama.

Melalui Program Pertamina Budaya kata Denie, diharapkan bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia, khususnya seni tari topeng Cirebon yang sudah melegenda dan diwariskan turun-temurun sejak masa Kesultanan Cirebon dipimpin Sunan Gunung Jati.

“Semoga kegiatan ini mendapat dukungan positif dari pemerintah setempat serta membangun citra positif perusahaan,” ujarnya.

Baca juga: Anak Norwegia antusias belajar musik tari Indonesia

Baca juga: Mahasiswa Australia belajar tari lilin di Ubaya

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kartun dunia dipamerkan pada “Borobudur Cartoonists Forum”

Borobudur, Jateng (ANTARA News) – Sekitar 170 karya para kartunis dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dipamerkan dalam rangkaian “Borobudur Cartoonists Forum” di kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 22-23 September 2018.

“`Gawe` (hajatan, red.) ini sebenarnya hanya sekelas ekshibisi, bukan kontes atau lomba. Namun di luar dugaan, minat peserta, baik dari dalam maupun luar negeri sangat besar,” kata kurator pameran kartun “Borobudur Cartoonists Forum 2018” bertajuk “Abad Visual” itu Darminto M. Sudarmo di Borobudur, Sabtu.

Jumlah total karya kartun yang masuk panitia sekitar 250 karya berasal dari 114 kartunis. Setelah disimak oleh tim, sekitar 170 kartun karya 90-an kartunis dipamerkan. Mereka berasal dari sekitar 23 negara, seperti Aljazair, Azerbaijan, Bahrain, Brazil, China, Filipina, India, Indonesia, Irak, Kuba, Makedonia, Malaysia, Maroko, Mesir, Montenegro, Prancis, Rumania, Rusia, Serbia, Suriah, Turki, Ukraina, dan Uzbekistan.

Ia menyebut kartun yang bagus dipastikan ada isinya yang bisa membuat penonton tersenyum, ketawa, kesal atau bahkan berpikir.

“Isi itu diperoleh kartunis dari sejumlah pencarian, segunung perenungan, dari membaca dan melihat keadaan sekitar, lingkungan rumah, lingkungan kerja, pusat belanja, bahkan semua yang ada di jagat raya ini dapat memengaruhi atau menginspirasi lahirnya gagasan seorang kartunis,” kata dia.

Ia mengatakan menikmati kartun, khususnya kartun lelucon, memerlukan wawasan penikmatnya yang memadai agar terhubung dengan gagasan kartunis yang tertuang dalam karyanya.

Karya kartun, ujar Darminto yang juga pengamat humor itu, meskipun hanya satu kotak (ada yang beberapa kotak) dapat berkomunikasi secara tuntas dengan penikmatnya.

Ia mengemukakan tidak sembarang orang bisa membuat kartun yang bagus, demikian pula tidak sembarang orang bisa menikmati kartun bagus.

“Semua terkait dengan nalar dan kecerdasan. Terkait dengan kekayaan wawasan dan pengetahuan,” kata Darminto yang juga salah satu pendiri Amarusa Parama (Ampara), penyelenggara “Borobudur Cartoonists Forum”. Pendiri lainnya adalah Lukas Luwarso, Y.H. Setyo Raharjo, Itok Isdianto, Nur Hidayat, Daries Sutomo, Pramono R. Pramoedjo, dan Tri Agus Siswowihardjo.

Ketua Panitia “Borobudur Cartoonists Forum 2018” Lukas Luwarso mengatakan para kartunis dari luar negeri mengirimkan karya mereka kepada panitia untuk ikut dalam pameran tersebut.

Para kartunis dari luar negeri itu, antara lain Silvano Mello (Brazil), Hou Xiaoqiang (China), Kamel Berani (Aljazair), Seyran Caferli (Azerbaijan), Ali Khalil (Bahrain), Bern Fabro (Filipina), Tvg Menon (India), Qasim Qapalan (Irak), Keti Radevska (Makedonia), Gayour Marli (Malaysia), Omar Saddek Mostafa (Mesir), Vjekoslov Bojat (Montenegro), Belom Jean-Loc (Prancis), Victor-Eugoen Mihai (Romania), Mileta Miloradovic (Serbia), Raed Khalil (Suriah), Roberto Castillo Rodriquez (Kuba), Askin Ayrancioglu (Turki), Alexander Dubovsky (Ukraina), dan Makhmud Eshonqulov (Uzbekistan).

Kartunis dari berbagai kota di Indonesia yang ikut dalam pameran tersebut, antara lain Jitet Koestana, Soeprie Ketjil, Aan Adi Jaya, Budi Santoso Budeks, Danny Yustiniadi, Fitriyadi, Hang Ws., I Wayan Nuriarta, Jadud Soemarno, Imam Yunni, Joen Yunus, Khoiril Mawah, M. Hadi Santoso, Partono, Totok Haryanto, Wahyu Siswanto, dan Zaenal Cartoonist.

Sekitar 100 kartunis dari berbagai kota di Indonesia menggelar pertemuan bernama “Borobudur Cartoonists Forum” dipusatkan di “Bumayasasta Boutique Art Gallery” sekitar 600 meter timur Candi Borobudur, Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah selama 22-23 September 2018.

Rangkaian kegiatan itu, antara lain seminar “Kartun dan Strategi Kebudayaan” dengan narasumber budayawan Erros Djarot dan penanggap Heri Dono, diskusi “Kartun dan Industri Animasi” dengan pembicara Agung Wijanarko (Amikom) dan Susilo Dwi Murwanto (Funymation Studio), lokakarya kartun, dan lomba kartun “on the spot”.

Baca juga: 100 kartunis Indonesia bertemu di Borobudur

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

100 kartunis Indonesia bertemu di Borobudur

Borobudur, Jateng (ANTARA News) – Sekitar 100 kartunis dari berbagai kota di Indonesia menggelar pertemuan bernama “Borobudur Cartoonists Forum” di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah selama 22-23 September 2018.

“Ini pertemuan kedua setelah yang pertama tahun lalu juga di Borobudur ini. Rencananya BCF ini setiap tahun kami selenggarakan,” kata Ketua Panitia BCF Ke-2 Lukas Luwarso di sela pembukaan kegiatan yang dipusatkan di Bumayasasta Boutique Art Gallery Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar 600 meter timur Candi Borobudur, Sabtu.

Rangkaian kegiatan itu, antara lain seminar “Kartun dan Strategi Kebudayaan” dengan narasumber budayawan Erros Djarot dan penanggap Heri Dono, diskusi “Kartun dan Industri Animasi” dengan pembicara Agung Wijanarko (Amikom) dan Susilo Dwi Murwanto (Funymation Studio), lokakarya kartun, dan lomba kartun “on the spot”.

Ia mengatakan tema BCF tahun ini “Abad Visual” tentang upaya masyarakat memanfaatkan teknologi visual, gawai, dan internet secara optimal untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tema tersebut, ujar Luwarso yang juga aktif di Kelompok Kerja Dewan Pers dan pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) itu, juga untuk memperkuat kesadaran para kartunis dalam pemanfaatan medium baru era digital.

Ia mengatakan dunia kartun di media cetak makin sempit sehingga para kartunis harus melakukan inovasi dan memperkuat kemampuan kreatif untuk memanfaatkan peluang perkembangan dunia internet.

“Kartunis punya paradigma memanfaatkan medium baru digital. Kartun diarahkan salah satunya animasi dan sebagainya. Kartun tidak akan mati, bahkan di Amerika Serikat menjadi industri. Kalau kartun di dunia cetak lebih diarahkan ke buku dan komik,” ujar dia.

Budayawan Erros mengemukakan pentingnya para kartunis memposisikan diri terkait dengan perubahan paradigma dari dua dimensi menjadi tiga dimensi, dan bahkan empat dimensi.

“Teman-teman kartunis harus memosisikan diri di mana, dalam paradigma yang berubah ini,” ujarnya.

Ia mengemukakan bahwa seni kartun menjadi istimewa dalam kemampuan menyampaikan pesan yang memperkaya makna, tafsir, dan interpretasi. Seni kartun mengajak manusia berpikir lebih kontemplatif.

Pesan melalui gambar kartun, kata dia, menuntut penerima pesan untuk tidak bersikap verval, apalagi banal.

Ia mengatakan bahwa kartun mampu menyajikan fakta sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sepertinya rumit menjadi lebih simpel.

“Memacu manusia agar berpikir reflektif, kontemplatif, dan juga kreatif dalam melihat dan mengatasi persoalan,” ujarnya.

Hadir pada pembukaan BCF 2018, antara lain Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Urip Sihabudin, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Haryono, dan General Manajer Taman Wisata Candi Borobudur I Gusti Putu Ngurah Sedana.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Urip Sihabudin, mengatakan kartun medium komunikasi efektif, termasuk komunikasi sosial dan politik yang mengena, serta memberikan inspirasi bagi pengambilan kebijakan.

“Bagi pejabat publik, bisa menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan yang positif. Di kartun pula seringkali mengambil peran dan fungsi sosial dan politik yang `makjleb` (mengena, red.), meski itu jenaka. Gambar-gambarnya `nyengit-nyengit` (tajam, red.) tetapi bisa membuat tersenyum kemudian menginspirasi,” katanya.

Baca juga: Cengar-cengir di pameran Indonesia Senyum

Baca juga: Seniman Bekasi anugrahi gelar Mpu untuk kartunis GM Sudarta

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Azwar Anas harapkan IWF lahirkan spirit baru

Banyuwangi (ANTARA News) – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap ajang Indonesia Writers Festival (IWF) yang kali ini digelar di kaki Gunung Ijen mampu melahirkan spirit baru dalam dunia tulis menulis.

“Semoga ajang ini mampu melahirkan tulisan yang baru sehingga akan lebih banyak orang yang tahu tentang Banyuwangi,” kata Anas saat memberi sambutan pada acara Indonesia Writers Festival di Taman Gandrung Terrakota, Jiwa Jawa Resort Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat.

Acara yang diikuti para penulis dari berbagai daerah di Indonesia itu, antara lain Fira Basuki (novelis), Najwa Shihab (presenter televisi), Uni Lubis (wartawan senior dan penggagas IWF), Sigit Pramono (fotografer yang juga mantan bankir).

Menurut Anas, apa yang dicapai Banyuwangi saat ini adalah hasil dari mimpi-mimpi besar saat dirinya awal menjadi bupati, termasuk kini daerah itu dipercaya sebagai tuan rumah perhelatan para penulis itu.

“Kita harus berani bermimpi. Katanya, kalau tidak berani bermimpi, mati saja. Dulu ketika saya gagas bandara dan penerbangan langsung Jakarta Banyuwangi dianggap hanya mimpi. Sekarang menjadi kenyataan. Membangun banyak hotel dipertanyakan, siapa yang mau menginap,” katanya.

Uni Lubis, sebelumnya mengatakan festival ini bertujuan memberdayakan dan mempromosikan nilai-nilai dan kebaikan Indonesia melalui kemampuan menulis (empowering Indonesia trough writing).

“Kami ingin generasi milenial yang bergabung dalam komunitas menulis meningkat kualitasnya dalam menulis. Seperti, kami harap mereka makin peka dalam menangkap hal-hal yang menarik di sekitar mereka, yang dekat dengan kehidupan milenial,” katanya.

Mengenai pilihan Banyuwangi, khususnya di wilayah kaki Gunung Ijen, Uni mengatakan harapannya bisa memicu mereka untuk menulis beraneka tema, mulai traveling, wisata, budaya, olahraga, dan lain-lain, serta menyampaikan kepada publik dengan cara yang lebih berkualitas.

Baca juga: Indonesia Writers Festival digelar di Gunung Ijen
 

Pewarta:
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sanggar seni Betawi untuk lestarikan budaya Betawi

Jakarta,  (ANTARA News) – Sanggar seni Betawi diharapkan turut meramaikan acara di Taman Budaya Benyamin Sueb, Jakarta Timur untuk turut serta melestarikan budaya Betawi.

“Kami mendukung pelestarian seni budaya Betawi, untuk itu kami juga meminta sanggar budaya betawi termasuk juga Oplet Robet ikut serta meramaikan acara di Taman Budaya Benyamin Sueb dengan berbagai penampilan budaya Betawi,” kata Sekretaris Kota (Sekko) Kota Jakarta Timur Usmayadi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Hal itu disampaikan oleh Usmayadi saat menyambut kunjungan Sanggar Oplet Robet yang dipimpin komedian sekaligus artis seni peran, Ramdani atau lebih dikenal dengan Qubil AJ, di Kompleks Walikota Jakarta Timur yang membahas tentang pelestarian seni budaya Betawi.

Dalam kunjungannya tersebut, kata Usmayadi, sanggar Oplet Robet meminta dukungan Pemkot Jakarta Timur terkait pagelaran lenong bangsawan dengan tema “kerajaan bontot” yang akan dipentaskan pada tanggal 2-4 November 2018 mendatang, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat.

“Ya mereka meminta dukungan, pada prinsipnya kami pemerintah kota mendukung semua usaha pelestarian budaya Betawi,” ujar Usmayadi.

Sambutan dan keinginan mendukung dari pemerintah kota Jakarta Timur tersebut, disambut baik oleh Sanggar Oplet Robet yang menilai dalam melestarikan budaya perlu adanya sinergi pelaku budaya dan pemerintah.

“Kami sebagai orang Betawi memiliki kesadaran dan kecintaan terhadap budaya Betawi terus berupaya menjaga dan mempertahankan kearifan budaya lokal untuk itu perlu adanya sinergitas yang terbangun bersama pemerintah, termasuk Kota Jakarta Timur,” kata Ketua Sanggar Oplet Robet, Qubil.

Qubil menjelaskan dalam usahanya melestarikan budaya betawi, pihaknya kerap mementaskan salah satu budaya Betawi yakni lenong, baik di lingkungan masyarakat, instansi pemerintah maupun swasta.

“Itu semua sudah kami lakoni, tidak hanya itu, sanggar Oplet Robet juga aktif menggelar lomba Lenong Betawi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat,” ujarnya.

Terkait dengan ajakan “mentas” untuk memberdayakan gedung Eks Kodim yang saat ini telah menjadi Taman Budaya Benyamin Sueb Kota Jakarta Timur, sanggar Oplet Robet siap untuk meramaikan dengan menampilkan lenong Betawi.

“Alhamdulillah, saat ini gedung eks kodim itu sudah dapat dijadikan sebagai cagar budaya tempat menampung berbagai kesenian Betawi,” tuturnya.

Kunjungan Oplet Robet tersebut, selain disambut oleh Sekretaris Kota Jakarta Timur, juga oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Jakarta Timur Syofian Thahir dan Kepala Bagian Perekonomian Kota Jakarta Timur Yenny Asnita.

Taman Budaya Benyamin Sueb yang terletak di Jatinegara itu  akan resmi dibuka pada Sabtu (22/9). Akan tetapi sejak tanggal 16 September lalu, taman yang didedikasikan oleh seniman Betawi tersebut telah menggelar berbagai acara kesenian. 

Baca juga: Puluhan atlet berpakaian tradisional Betawi selama berwisata
Baca juga: Lebih dekat dengan budaya Betawi lewat “Betawi Hari Ini”

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Koki Indonesia ajarkan cara masak soto di Le Cordon Bleu Paris

London (ANTARA News) – Koki Indonesia, Degan Septoadji, mengajarkan cara memasak soto dan kari ayam dalam kelas memasak ketiganya di sekolah kuliner kenamaan Le Cordon Bleu di Paris, Prancis, pada Rabu (19/9).

Dalam acara yang merupakan rangkaian kegiatan promosi Festival Couleurs d’Indonésie itu, ada sekitar 70 undangan yang menghadiri kelas memasak, termasuk di antaranya perwakilan diplomatik dan murid Le Cordon Bleu, menurut Sekretaris Kedua Ekonomi KBRI Paris, Karina Ratnamurti, Kamis.

Koki Degan memperkenalkan bumbu dan teknik membuat masakan Indonesia kepada para calon juru masak yang belajar di sekolah itu. Dia antara lain memperkenalkan lima bumbu dasar Indonesia, yakni bumbu kuning, bumbu merah, bumbu putih, bumbu hitam dan bumbu hijau.

Koki yang pernah menjadi juri kontes memasak MasterChef Indonesia itu berharap peserta kelas memasak di Le Cordon Bleu bisa mempelajari rasa baru dan mengaplikasikannya dalam memasak.

Selama tiga kali mengajar dalam kelas memasak di Le Cordon Bleu, Koki Degan melihat antusiasme peserta kelas memasak. “Banyak sekali pertanyaan teknis yang muncul mengenai cara memasak ala Indonesia ini, seperti misalnya menghancurkan bumbu menggunakan cobek batu,” katanya.

Duta Besar RI di Paris Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan ada peluang untuk meningkatkan nilai ekspor bumbu khas Indonesia karena beberapa restoran di Paris saat ini sudah banyak menggunakan bumbu Indonesia.

Kelas memasak makanan Indonesia di Le Cordon Bleu Paris, ia mengatakan, merupakan salah satu bentuk kerja sama KBRI Paris untuk meningkatkan diplomasi kuliner Indonesia yang diharapkan dapat mempopulerkan dan meningkatkan nilai ekspor bumbu asal Indonesia.

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia mencatat kuliner merupakan subsektor industri kreatif yang memberikan penghasilan terbesar dibandingkan subsektor lainnya, menyumbang 41,4 persen dari total kontribusi ekonomi kreatif Indonesia.

Festival Couleurs d’Indonésie yang tahun ini berlangsung mulai 22 September mencakup kegiatan promosi perdagangan dan investasi serta acara-acara budaya.

Baca juga:
KBRI unjuk Ranah Minang di Paris
Bumbu khas Indonesia diperkenalkan di Arab Saudi
Koki Inggris pelajari masakan Minang

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Tabut

Masyarakat memadati lokasi tabut pada malam Arak Gedang dan Tabut Besanding di arena Festival Tabut 2018, Lapangan View Tower, Bengkulu, Rabu (19/9/2018). Malam Arak Gedang dan Tabut Besanding merupakan malam puncak perayaan tabut. Tradisi Tabut diselenggarakan untuk memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein, dalam pertempuran di Padang Karbala. ANTARA FOTO/David Muharmansyah/foc.

Sunat perempuan dianggap kekerasan terhadap anak

Jakarta (ANTARA News) – Sunat pada bayi perempuan sampai saat ini masih menjadi kontroversi, dan Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Eni Gustina, MPH mengatakan bahwa hal tersebut masuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

Eni menuturkan bahwa di Indonesia praktik sunat perempuan persentasenya cukup tinggi. Meskipun, katanya, para bidan sudah sepakat dan berkomitmen untuk tidak melayani permintaan sunat pada anak perempuan.

Baca juga: Manfaat sunat bayi perempuan menurut ahli

“Ini terkait kekerasan anak. Di UNICEF, Indonesia cukup tinggi sehingga kita di judge sebagai pelaku kekerasan terhadap anak karena sunat perempuan. Melalui kongres IBI (Ikatan Bidan Indonesia) sudah disampaikan bahwa bidan-bidan tidak boleh melakukan sunat perempuan,” ujar Eni ditemui dalam workshop “Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu Anak dan Gizi dalam Memperkuat Suplementasi Vitamin A” di Jakarta.

Menurut Eni, praktik sunat anak perempuan di Indonesia masih masuk dalam budaya turun-menurun. Namun, pada sisi kesehatan, sunat ini tidak ada manfaatnya.

Baca juga: AS tingkatkan upaya akhiri sunat perempuan

“Ini bagian dari budaya, ini kayak mitos. Sunat enggak ada manfaatnya sama sekali untuk perempuan. Bahkan sekarang menyentuh kulit kelamin anak saja enggak boleh,” terang dia.

Meski belum ditemukan bahaya dari sunat perempuan, bagi Eni, praktik sunat perempuan bisa mendatangkan infeksi jika tidak dilakukan dengan benar.

Baca juga: UNICEF sebut 200 juta anak perempuan dan wanita disunat

“Itu organ dilukai bisa terjadi infeksi. Itu kan bagian tubuh paling sensitif untuk berhubungan seksual, bayangin kalau harus dibuang. Di Indonesia ada yang ringan sunatnya, cuma digores, disayat sampai dipotong. Tapi itu tidak boleh dan itu masuk pada kekerasan terhadap anak dan perempuan,” tutup Eni.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Melacak sejarah di Nagari Tuo Pariangan

Di arah tenggara Gunung Marapi, Sumatera Barat, perkampungan Pariangan yang elok membentang menebarkan pesona alamnya. Nagari yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar itu dikenal dengan sebutan Nagari Tuo.

Pantun Minangkabau menyebutnya sebagai daerah asal nenek moyang. Dari mano asa titiak palito, di baliak telong nan batali, dari mano asa niniak moyang kito, dari lereang Gunuang Marapi, demikian antara lain isi pantunnya.

Berdasarkan tambo, cerita rakyat dalam tradisi lisan masyarakat Minangkabau, Pariangan merupakan daerah pertama yang menjadi permukiman pada masa lampau.

Dalam tambo, nenek moyang masyarakat Minangkabau disebut sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain, yang memiliki tiga anak yaitu Sultan Suri Maharajo Dirajo, Sultan Maharajo Alif, dan Sultan Maharajo Depang.

Ketiganya kemudian berpisah, dan Sultan Suri Maharajo Dirajo bersama pengikutnya yang pada akhirnya berlayar hingga daerah Gunung Marapi, tempat mereka pertama kali bermukim di cikal bakal Nagari Pariangan.

Petunjuk arkeologis

Lain dengan versi tambo, peninggalan arkeologis di Pariangan menunjukkan daerah tersebut sudah mulai eksis sejak zaman Hindu-Buddha, sebelum Islam masuk.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara Taufiqurrahman Setiawan mengatakan daerah Pariangan menyimpan peninggalan sejarah dari zaman pra-Islam, termasuk di antaranya Prasasti Pariangan yang berada di daerah Biaro, tidak jauh dari Masjid Ishlah di Pariangan.

Bersama beberapa peneliti, dia berada di Pariangan untuk menindaklanjuti laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat mengenai temuan bata yang diduga bagian dari bangunan tempat pemujaan di Biaro, yang menurut kajian toponimi namanya berasal dari kata biara atau wihara.

Setelah melakukan penggalian pada 11-18 September, para peneliti menemukan beberapa pecahan bata dan gerabah yang kemudian disimpan dalam dua kotak. Namun temuan itu belum bisa menjadi titik awal untuk melakukan penggalian lebih lanjut.

Taufiq menduga Prasasti Pariangan menyimpan cerita mengenai tempat pemujaan ataupun bangunan penting lain pada masa lalu. Sayangnya kondisi Prasasti Pariangan sudah kurang bagus, sebagian aksaranya rusak, menyulitkan para peneliti mengungkap informasi yang tertulis padanya.

Peneliti BPCB Sumatera Barat yang ikut melakukan ekskavasi di Biaro, Dodi Chandra, menjelaskan bahwa pendataan sebenarnya sudah dilakukan di kawasan Pariangan sejak 2016, dan menghasilkan rekomendasi untuk meneliti lebih lanjut petunjuk mengenai adanya struktur bangunan kuno di daerah Biaro.

Dodi menjelaskan pendataan dilakukan berdasarkan laporan masyarakat setempat mengenai bata-bata yang ditemukan saat menggali tanah untuk membangun fondasi rumah dan sekolah serta membuat sumur.

Bata-bata tersebut berbeda dengan bata yang ada saat ini. Lebih besar dan lebih tebal, mirip dengan batu-batu pada bangunan struktur candi. Dan bata serupa pernah ditemukan di situs di Ponggongan, tidak jauh dari tempat prasasti berada, memunculkan kemungkinan bahwa bata-bata itu merupakan bagian dari bangunan masa lalu yang tersisa di Biaro.

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

“Dalang Go Digital” diharapkan buat wayang tetap jadi bagian masyarakat

Jakarta (ANTARA News) – Seniman pedalangan wayang Nanang Haper berharap gerakan “Dalang Go Digital” bisa membuat wayang tetap menjadi bagian dari masyarakat.

“Tantangannya wayang hari ini bagaimana bisa tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini, bukan sebagai bagian masyarakat masa lalu yang dirawat bukan atas dasar fungsi melainkan hanya penghormatan,” ujar Nanang di Jakarta, Selasa.

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa saat wayang masuk ruang digital seperti ini, orang akan berhitung soal nilai jual karena kalau wayang ingin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan bukan kesenian yang dikonservasi atas dasar cinta.

“Wayang itu tidak pernah tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, selama ini juga begitu. Wayang dihadapkan pada ruang yang tidak melulu menjadi seni pertunjukan yang hanya bisa dinikmati dalam waktu dan ruang tertentu, namun hari ini wayang bisa menjadi data dan diputar ulang. Ruang digital bisa menjadi jembatan sebenarnya bahwa wayang bisa dinikmati di mana saja dan kapan saja,” kata Nanang.

Menurutnya, ruang digital juga bisa memberikan tantangan kepada dalang untuk menggarap pertunjukannya supaya tidak membosankan karena harus selalu baru pada akhirnya.

Gerakan “Dalang Go Digital” merupakan gerakan yang telah dilakukan para pelaku seni pedalangan berupa digitalisasi pertunjukkan wayang, boneka wayang, digitalisasi naskah-naskah pewayangan, dan informasi lainnya terkait dunia pewayangan.

Bahkan masyarakat sekarang bisa menyaksikan pergelaran wayang secara “live streaming” tanpa beranjak dari rumah sambil bersantai dengan keluarga.

Media Internet juga lebih banyak digunakan dalang-dalang generasi muda sebagai sarana belajar mendalang atau meningkatkan kemampuan dari rekaman dalang-dalang seniornya, bahkan ada juga yang mengunakan sosial media sebagai sarana publikasi dan promosinya.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Seni pedalangan wayang punya manfaat bagi generasi muda

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kondang Sutrisno mengungkap bahwa seni pedalangan  memiliki manfaat bagi generasi muda.

“Dari sisi manfaatnya tentu ini menjadi ajaran pendidikan moral yang adiluhung bahwa kita bisa melihat anak-anak yang mempelajari dunia pedalangan, pendidikan akademisnya di atas rata-rata,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa kehidupan ruang lingkup kecil anak-anak yang mempelajari seni pedalangan wayang di keluarganya dan lingkungan sekitarnya pasti berbeda.

“Kita juga berharap dunia pedalangan ini bisa memberikan pendidikan budi pekerti yang sekarang sudah tidak ada, namun di dunia pedalangan masih mengandung dan makna dari pendidikan budi pekerti,” kata Kondang dalam konferensi pers “Dalang Go Digital” serta Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018.

Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018 Tingkat Nasional tahun 2018 akan digelar di Panggung Candi Bentar dan Putro Pendowo Taman Mini Indonesia Indah pada 20 – 23 September 2018.

Festival Dalang Bocah tahun ini diikuti 29 peserta dan terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok A untuk anak-anak berusia 8-12 tahun dan kelompok B untuk anak-anak berusia 13-15 tahun.

Sedangkan Festival Dalang Muda tahun 2018 diikuti 30 dalang muda yang terbagi menjadi dua kelompok usia yakni kelompok A untuk dalang berusia 17-20 tahun dan kelompok B untuk dalang berusia 21-30 tahun.          

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018